Tuesday, April 3, 2007

SI GUNDOL

Dengan sedikit masih ada rasa ngantuk sehabis nongkrong dan begadang semalam, aku bangun juga saat melihat jam sudah menunjukan jam 12 siang, segera aku berkemas dan siap meninggalkan penginapan itu, tapi dalam perjalanan menuju rumah, rupanya perut sudah minta diisi, tadi aku tak sempat makan roti dan minum kopi yang disediakan penginapan karena terburu-buru, ketika lihat rumah makan cepat saji dipinggir jalan aku berenti dan masuk, aku tak begitu memperhatikan keadaan sekeliling apalagi orang-orang yang ada disitu, karena yang kuperhatikan adalah perut yang sudah keroncongan.

Saat makan aku bingung, rasanya ada suara perempuan yang memanggil nama julukanku waktu kecil, saat aku menoleh ke meja sebelah ternyata disitu ada wanita yang sangat cantik sedang tersenyum tapi aku malah bingung karena tak kenal sama sekali.. tapi ketika mataku kualihkan ke lelaki disebelahnya… meski sudah berubah, tapi masih kukenal orang itu, ya.. tak lain si Gundol temenku waktu SMP, sebenarnya namanya cukup bagus yaitu Nanang Wicaksana, tapi karena wajahnya yang sangar bibir yang agak landung dan kepala yang besar dan menonjol kebelakang mungkin itulah kenapa dia dipanggil si Gundol, aku sendiri tak ingat lagi siapa yang pertama memberi julukan itu padanya, tapi yang pasti dia itu anak yang sangat terkenal disekolahku, hanya sayang terkenalnya bukan dalam hal kebaikannya, dia terkenal dengan bengalnya, nakalnya dan masih banyak lagi julukan buruk yang ada padanya, itulah yang pertama kali kuingat saat melihat dia.

Dua temen yang tak pernah ketemu tentu seru dari, kami ngobrol mulai tentang masa lalu, saat ini, sampai dengan tukar cerita tentang apa yang telah kita capai masing-masing, dan asal tau saja perempuan cantik yang mirip Sophia latcuba disebelahnya itu ternyata istri yang sudah dua tahun ini dia nikahi dan sudah pula memberikan dia satu keturunan, aku kagum juga cita-cita dia waktu masih SMP dulu, kalau dia ingin punya istri yang cantik ternyata tercapai juga, kalau dilihat tentu saja sangat kontras perbedaannya, kalau temen sekantorku istilahkan sih “bagaikan puteri Cinderella dengan tukang kebunnya” .

Aku kagum mendengar perjalanan hidupnya dan apa yang telah dicapai dia saat ini, mengingat SMP pun dia tak tamat, dibalik semua kekurangannya ternyata dia adalah orang yang sangat gigih dan ulet untuk merubah nasib, dia cerita waktu kelas tiga itu kenapa harus keluar sekolah, itu karena ibunya sudah tak dapat lagi membiayai dia sekolah. Dengan berat hati dia harus meninggalkan bangku sekolah dan teman-teman yang dia cintai, dia pergi ke lain kota untuk mencoba mengadu nasib, pertamanya dia bekerja disebuah bengkel mulai dari hanya tukang bersih-bersih, sampai kemudian diangkat menjadi mekanik di bengkel itu, setelah ia semakin mahir dan bisa ngumpulin sedikit-demi sedikit modal dan ada satu orang pelanggannya yang percaya serta mau untuk menanamkan modalnya dibengkelnya, dia akhirnya buka sendiri bengkel, dan memang benar karena keuletannya dan komitmennya menjaga kepercayaan pelanggan, yang tadinya tempat usaha saja hanya mampu ngontrak itu, akhirnya sampai kebeli juga, kian hari usahanya semakin pesat, hingga akhirnya dia punya bengkel cukup besar dengan anak buah yang juga lumayan banyak. Sampai cerita itu, aku jadi tak heran lagi kenapa dia bisa punya istri yang begitu cantik, apalagi saat pulang aku lihat, ternyata SUV terbilang mewah dan baru yang diparkir itu ternyata miliknya, waktu itu kebetulan dia ada didaerah itu dalam rangka pembukaan cabangnya yang kedua, diajaknya aku berkeliling dan dikenalkannya pada anak buahnya yang lumayan cukup banyak juga di cabangnya itu.

Melihat dia lagi, aku jadi teringat masa SMP dulu, yang banyak sekali kenangan bersamanya. Aku sebenarnya bukanlah tipe orang yang suka berkelahi apalagi menjadikannya hobby, aku orang yang lebih sering mengalah dalam segala hal, dan yang namanya berkelahi itu sangatlah aku hindari apalagi bila mengingat badanku yang kecil. Untuk itu tak heran, saat anak-anak lain mengambil extra kulikuler taekwondo, Karate, silat atau bola aku malah ambil vocal group, paduan suara atau belajar latihan musik itulah gambaranku waktu itu.

Ketika kelas satu si Gundol sudah kelas dua tapi karena tak naik kelas akhirnya aku jadi satu angkatan sama dia, pertamanya aku tak akrab dengan dia bahkan aku benci sama dia karena dia dan ganknya selalu saja memerasku/memalakku bahkan mengintimidasiku apalagi kalau hari sabtu, karena itu jadwalnya anak-anak itu belajar minum-minuman keras, mereka selalu malak sana-sini untuk tambahan beli minuman itu, si Gundol itu memang tak pernah turun tangan tapi cukup tunjuk temennya atau anak buahnya maka anak buahnya itulah yang selalu datang padaku atau temenku meminta jatah, pernah sekali waktu aku coba ga ngasih, saat itu juga aku langsung kena tamparan dan malah uang yang ada padaku semuanya mereka ambil, sampai uang untuk ongkospun aku tak punya, dan terpaksa harus pulang dengan jalan kaki.

Pada suatu saat karena sudah sangat jengkelnya aku nekad melawan, saat itu hari sabtu sehabis pelajaran olah raga dia dan ganknya datang, seperti biasa minta jatah, tapi karena duitku hanya tinggal untuk makan dan ongkos pulang, anak buah si Gundol itu tak aku kasih, ketika dia malah mau angkat kerah baju ingin memukul, aku duluin dengan memukul dia pas pelipis matanya sekencang-kencangnya, dia limbung dan terjatuh tersungkur ke lantai, ga cukup sampai disitu aku lari keluar kelas dan rebut stick soft ball yang lagi dipegang temenku, balik lagi masuk kelas terus aku pukulkan ke anak yang masih duduk dengan limbung itu berkali-kali hingga terkapar dengan darah yang mengalir dari pelipis mata, sampai akhirnya temenku sendiri yang teriak dan memegangiku karena takut keadaan semakin parah.

Si Gundol dan temennya hanya bengong bercampur ngeri ketika aku datengin dan aku pandangin satu-satu, tak ada satupun dari mereka yang berani maju ketika malah kutantang siap menghajarnya juga dengan stick itu. Mungkin mereka bingung bercampur ngeri melihat aku yang biasanya klamar-klemer paling gampang di palak bisa senekad dan sebrutal itu dan itu sama sekali diluar perkiraan mereka, Alhasil aku tetap kena skor 4 hari tapi anak yang kupukuli itu lebih parah lagi, pipinya lebam dan peipisnya diperban karena sobek sarta satu tangannya harus di gip lebih dari satu bulan karena patah tulang akibat menahan pukulan stick soft ballku. Ada yang lucu ketika orang tua anak itu tak terima dan datang kesekolah serta mengancam akan melaporkanku ke polisi, tapi setelah tau duduk persoalannya dari guru dan temenku konon katanya malah anaknya sendiri yang di tambahin tamparan dirumah sama orang tuanya. Semenjak itu tak ada lagi yang berani memalak atau mengintimidasi baik itu si Gundol maupun kaki tangannya, begitu juga dengan temen2 dekatku mereka ikut aman dari gangguannya dan bahkan cerita minum-minuman keras di hari sabtupun sudah sudah tak terdengar lagi.

Entah respek karena berani melawan atau apa, tapi semenjak itu si Gundol yang dulunya selalu melihatku hanya sasaran empuk untuk diperas malah jadi akrab denganku, meski sudah tak coba-coba lagi dengan minum-minuman keras tapi Bengal sama nakalnya tak pernah berkurang, selalu ada saja ulahnya yang bikin orang lain jengkel, mangkel, bahkan mungkin membencinya, pernah aku dan temen disidang guru BP gara-gara ngikutin kemauan dia ngintip siswi-siswi yang sedang mandi sewaktu kemah pramuka, bahkan pernah juga ketika aku dan temen-temen main ke kampungnya dan dengan meyakinkan menyuruh temenku yang bisa manjat pohon kelapa untuk mengembil kelapa mudanya, baru saja dua buah yang diturunin… si gundol teiak2 menyuruh teemenku turun karena yang punya pohon kelapa itu datang mengacung-ngacungkan golok sambil teriak-teriak, kontan saja temenku yang panik diatas pohon melorotin diri ke bawah sampai badannya penuh luka goresan dan kakinya keseleo tak bisa jalan hingga harus dia bopong sambil lari.

Kalau aku tak mengenal lebih dekat, mungkin akupun tetap saja akan melihat dia orang yang sangat brengsek, padahal dibalik semua kenakalan dan kebengalannya itu sebetulnya dia orang yang baik, ini terlihat dari begitu hormat dan berbaktinya dia sama orang tua tunggalnya itu, jam 3 pagi saat aku dan temen lain masih lelap tidur, dia sudah membawa pikulan nasi uduk kepasar dan menemani ibunya jualan sampai pagi menjelang sekolah, aku jadi paham kenapa dia bisa sampai ketinggalan pelajaran dan harus tinggal kelas dan kenapa dia harus badung seperti itu, semua itu mungkin karena dia merasa tak berdaya ditengah lingkungan dan hanya dengan kebadungannya itulah dia merasa bisa mendapat perhatian bahkan dari semua orang, begitu patuhnya sama orang tua, dia tak akan pergi kemanapun meski tempat itu tempat yang sangat kami sukai, kalau dia belum bertemu ibunya untuk pamit dan diikuti dengan mencium tangan ibunya, ini yang tak pernah kulihat diantara temen-temen termasuk aku sekalipun di usia seperti itu, diluar dia bisa seperti apa saja, tapi dalam rumah dia betul-betul anak yang sangat penurut, dia juga temen yang sangat solider, saat sakit dan tak bisa masuk sekolah.. dialah yang pertama datang menengokku yang lagi sakit, dialah yang melindungiku saat ada anak dari sekolah lain yang menggangguku, bahkan hanya dia yang berani tampil ke depan untuk dijadikan tumbal dan menerima hukuman guru padahal kenakalan itu kamilah yang melakukannya, dan yang aku salut tentang dia meski bengal, nakal dan berbagai julukan jelek lain yang ada padanya, tapi ketika tiba saat sholat dialah yang pertama mengingatkan dan mengajak kami sholat.

Melihat sekarang dia seperti apa dan apa yang telah dicapai dalam hidupnya dan melihat lagi pada diri sendiri, memang agak sedikit membuatku minder, bahkan mungkin sedikit cemburu dan memang betul, untuk segalanya dibandingkan dengan yang dia capai sekarang ini, aku sudah tertinggal jauh dibelakang, bahkan mungkin temen-temen SMP ku, tapi aku bahagia sekaligus bangga melihatnya, apalagi dia tak pernah melupakan masa lalu meski kehidupannya sudah jauh berubah dari yang lainnya, tetep hangat dan bersahabat.

Semakin nyatalah dihatiku bahwa jalan hidup seseorang itu tak ada yang tahu akan seperti apa, kita hanya bisa merencanakan segala sesuatu, tapi Tuhanlah yang mengatur semuanya, Tuhanlah yang bisa menjadikan si ini jadi si itu… dan si itu jadi si ini, roda kehidupan selalu berputar setiap saat, yang bawah bisa di atas begitu juga sebaliknya dan hanya dengan kepasrahan kepada Tuhanlah kita bisa bertahan. (Untuk sahabat terbaikku Nanang Wicakasna.)

No comments: