Senja sudah menampakan redupnya ketika Eko dengan wajah lesu keluar dari kantor, tidak seperti dulu, jam pulang adalah jam yang selalu dinantikan, tapi sekarang ini, sepertinya dia semakin betah saja dikantor menenggelamkan diri dengan tugas-tugasnya, hari libur yang dulu selalu ia tunggu, sekarang ini menjadi siksaan berat yang harus ia jalani, karena hanya bisa menghitung hari dengan kesepiannya. Eko selalu merasa kebingungan manakala menghadapi weekend seperti ini, kemana….? mau apa…? Itulah yang selalu menjadi pertanyaan besar. apalagi ketika tadi siang Ibunya telpon mengabarkan bahwa, Ibunya yang datang jauh dari kampung telah sampai dirumahnya, semakin membuat sesak didanya. Alunan lembut Sade dari cassete, tak bisa menenangkan kagalauan hatinya, bahkan macetnya jalan raya tak berpengaruh banyak pada emosinya, karena saat itu memang hati dan pikirannya tak ada dibelakang kemudi itu, tapi tertuju pada satu nama yang selalu mengusiknya setiap saat, meski sudah lama berpisah dan tak pernah bertemu dengannya.Kepergian Wina dengan pilihannya ternyata berdampak besar dalam kehidupan Eko, kini tak ada lagi optimisme yang selalu menggebu bila diajak membicarakan calon istri, dia bahkan menjadi tak suka membicarakan hal seperti itu, apalagi membicarakan agar segera mendapatkan pengganti Wina, sebenarnya bukan tidak suka, tapi dia sekarang ini lebih pasrah dengan keadaan, walau dia tahu target usia rencana menikah sudah semakin bertambah. Eko sendiri tak tahu kebohongan apalagi yang akan dia sampaikan kepada Ibunya, bila Ibunya menanyakan lagi hal ini, selama ini Wina memang sudah dikenal Ibunya dari foto-foto yang pernah dia lihat, tapi Eko sendiri sudah berbohong banyak pada ibunya tentang Wina yang akan jadi istrinya, Dia berbuat seperti itu tak lain, hanya karena ingin agar Ibunya tidak selalu menanyakan hal itu, tapi rupanya Ibunya tak sekedar ingin mendengar tentang hubungan keduanya sebatas pacaran, tapi hubungan yang lebih serius, itu dan itu yang selalu dia tanyakan ketika pulang kampung, apalagi setelah tak sengaja waktu itu Hp. Eko ketinggalan di rumah Ibunya dan Wina sms, Ibunya mulai ikut menyukai gadis itu, walau belum pernah melihatnya secara langsung. Dan kedatangan Ibunya kali ini disamping memang ada keperluan, tentu saja Ibunya ingin mengenal jauh tentang Wina yang selalu anaknya ceritakan, Eko hanya mengelus dada dan membathin ”maafkan aku Ibu.... aku tak bermaksud membohongimu... tapi aku juga tak suka dengan cara Ibu yang selalu mengenalkan anak2 kenalan Ibu padaku, hanya karena aku belum menikah” tapi sekarang setelah semuanya berakhir, dia kebingungan memikirkan semua itu, bahkan tabungan sakral yang seharusnya buat biaya pernikahan, sudah dia habiskan untuk memperbesar modal bisnis sampingannya, semua itu ia lakukan untuk melupakan semua harapannya selama ini.
Dari semula sebenarnya Eko sudah melatih menegarkan diri, bila suatu saat Wina harus pergi, karena dia menyadari betul, mencintai Wina, itu artinya ia harus siap dengan kekecewaan, mencintai Wina sebenarnya adalah suatu kemustahilan mendapatkan kemenangan, tapi meskipun demikian, dia tak menyangka bila ternyata, kebersamaan yang terjalin satu tahun lebih itu, sangatlah berarti dalam hidupnya, bahkan nama itu pula yang bisa menutup hati dan pikirannya setiap ingin membuka lembaran baru. Nama itu terlampau besar dihati Eko, sehingga yang datang dikemudian hari setelah Wina pergi, selalu tak sebanding dengan namanya. Tak dapat dipungkiri karena dari beberapa gadis yang pernah dekat dengannya, hanya Winalah yang pantas dia cintai. Dimata Eko, Wina tidak saja cantik, manis, dan smart, tapi Wina adalah pribadi unggulan dan mandiri, yang selama ini dia cari. Eko merasa sangat bahagia bila dekat Wina, dia rela menunggu lama dipelataran kantor Wina saat hujan deras, rela mengantar Wina kemanapun pergi meski mengaduk ngaduk belanjaan dipasar, yang selama ini tak pernah ia lakukan, Wina pula yang selalu bisa membuat Eko punya rasa cemburu sehingga harus memikirkannya sepanjang malam, bahkan apapun yang diperbuat Eko selalu tak pernah lepas dari untuk Wina, bagi eko Wina adalah segala-galanya.
Perkenalan dengan Wina sebenarnya tak terlalu istimewa, setelah kenal, Eko memberanikan diri mengajak nonton, jalan bareng sepulang kerja, bahkan pergi ketempat wisata, tak ada yang lebih istimewa dari itu, semua berjalan apa adanya, Eko sendiri sebenarnya bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Dia adalah pria dewasa dan baginya tak ada cinta pada pandangan pertama, sebuah cinta haruslah memerlukan proses, witing tresno jalaran soko kulino, nah seperti itulah mungkin yang dianut nya. Bagi dia mungkin saja dia jalan dengan gadis itu kemanapun mereka mau, tapi rasa cinta tidak secepat itu datang, apalagi saat itu dia sendiri sedang ada diujung tanduk dengan seseorang dari masa lalunya. Masih segar diingatan ketika Wina mengatakan ”Mas.... kita berteman aja ya...?, begitu pinta Wina pada suatu saat, ketika mereka ada dihamparan teh, Eko hanya bisa mengangguk mengiyakan apa yang dipinta Wina, tapi kemudian Eko mulai berbicara ” Win... bagitu komplek masalah yang ada didiriku.... aku sendiri tak tahu akan seperti apa jalan hidupku nantinya”, itulah yang Eko katakan sambil merebahkan diri dipangkuan Wina, Eko menceritakan semua tentang masa lalunya pada Wina, tanpa satupun yang dia tutupi, Eko tak mau bila suatu saat ia bersama Wina dapat menjalin kasih, Wina mendengar semua masa lalunya dia dari orang lain. Sebenarnya mulai saat itulah benih cinta tumbuh dalam diri Eko, dia menjadi semakin yakin, kalau orang seperti Winalah yang paling tepat untuk mengisi harinya, dimasa yang akan datang. Dalam benak Eko, meski Wina mengatakan hanya ingin berteman seperti itupun, bukan tak mustahil bila suatu saat, dia akan bisa merebut hati Wina. Apalagi setelah Wina cerita, tentang calon suaminya yang jauh diluar kota sana, yang semakin tak peduli tentang kesepian-kesepianya selama ini, ”Win... kita jalani saja apa yang bisa kita jalani dan biarkan waktu yang menentukan...” begitu lirih Eko ditelinga Wina seraya memeluk Wina dengan erat seolah tak ingin melepaskannya lagi. Sesaat mereka saling pandang dengan mesra, mencoba menyelami arti semua itu.
Waktu terus bejalan, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan seterusnya, yang pasti keduanya samakin lengket, menghabiskan hari libur berdua selalu menjadi angendanya, semakin mengenal Wina, cinta dihati Eko semakin besar, tapi disisi yang lain, Eko sendiri sadar dan takut dengan hatinya, karena dia tahu dia tak mungkin bisa menang, bila suatu saat dia mengharuskan Wina untuk memilih antara dia dan calon suaminya, dia sadar betul bila Wina tak akan bisa mencintai Eko sepenuhnya, karena bagaimanapun Eko tahu, dimata Wina calon suaminya itu adalah segala-galanya dan tak ada yang bisa menggantikan itu, dan Eko....? bagi Wna tak lebih dari, hanyalah orang yang berada diwaktu dan tempat yang salah, Dia tahu Eko sangat mencintainya, dia tahu Eko sangat menyayanginya, wanita mana yang bisa menolak semua itu, walau dalam hatinya tak sedikitpun mencintai Eko namun tak ada salahnya bila diapun menikmati semua itu. Lain halnya dengan Eko yang sangat berharap lebih dari Wina. Itulah yang menyebabkan selama dia dengan Wina, Eko selalu ingin menguji, seberapa besar cinta Wina padanya, tapi setiap itu pula Eko merasakan kegundahan, karena dia semakin mengerti bahwa, Wina tetaplah Wina yang takkan bisa mencintai Eko sepenuhnya, Wina tetaplah Wina yang takkan bisa ia renkuh sekaligus dengan hatinya.
Masih segar diingatan Eko, pada suatu hari saat, mereka jalan berdua dan makan di suatu tempat, Eko mulai memberanikan diri mengungkapkan keinginannya, dalam benaknya, mungkin bila ini diungkapkan, itu bisa merubah pandangan Wina tentangnya... merubah pandangan, bila yang telah dia jalanin selama ini dengannya itu punya satu niat baik dan tulus, dia ingin bersungguh-sungguh ingin mempersunting gadis pujaannya itu, hanya saja Eko merasa malu dan takut kalau itu dibicarakan dengan serius, hanya akan ditertawakan Wina, ”Win... andai saja kamu mau jadi istriku.... aku pasti menjadi orang yang sangat bahagia...” seloroh Eko dengan nada bercanda, sekilas Wina memandang Eko, tapi dia juga menjawab dengan nada canda pula, meski Eko sendiri tahu sebenarnya Wina tidak bercanda ” iya.. ya... andai saja kita bertemu beberapa tahun yang lalu....” begitulah tutur Wina, Eko tahu kemana arah pembicaraan Wina selanjutnya, hingga ia harus menukasnya dengan candaan lain, untuk mengalihkan kepembicaraan menutup gundah dihatinya, Eko adalah orang yang pintar menutupi kegundahan dihatinya didepan Wina, dia terlihat seperti tidak terjadi apa-apa, padahal dalam hatinya ditengah candaan2 lain dia hanya membatin... ”Ya... Tuhan... sebegitu susahnyakah orang sepertiku, menginginkan gadis yang yang kucintai ini...?” saat itu di terus saja ngobrol dengannya tentang segala hal... tapi sebenarnya hati Eko sendiri entah sedang dimana.
Tak terasa perjalanan yang cukup jauh itu hanya dihabiskan untuk mengenang Wina dia baru sadar ketika pagar rumahnya sudah terlihat, eko berhenti lalu keluar membukakan pagar dan garasinya, tak lama kemudian muncul Ibunya dari dalam rumah, Eko langsung menghampiri dan mencium tangan Ibunya sambil menyapa, ”apa khabar Bu... Ibu sehat-sehat aja...? Ibunya tak lantas menjawab tapi matanya tertuju ke dalam mobil yang memang berkaca gelap itu, seolah-olah ada yang dicari. Baru kemudian dia menjawab, ”Alhamdulillah Ko... ibu sehat-sehat aja.... Lho... Wina koq... ga diajak kesini sekalian Ko...? kan tadi Ibu bilang di telpon... kalau bisa.... ajak Wina sekalian...

No comments:
Post a Comment