Ngamal… pertama denger kata itu aku bingung, apa…sih… maksudnya…? Tapi setelah di jelaskan sama temen baru aku ngerti, ngamal itu ternyata asal katanya dari amal yang bisa diartikan memberikan suatu barang atau jasa tanpa pamrih… sedangkan ngamal yang dimaksud temenku ini ternyata adalah orang yang pekerjaanya atau penghasilannya dari meminta sumbangan, disini aku mau cerita tentang itu.Temenku punya pembantu baru, kita sebut saja di sini namanya mbak Yem, dia baru saja datang dari suatu daerah yang tak jauh dari Jakarta, sebelum ada dia dirumahnya, seperti biasa bila ada yang meminta sumbangan yang pakai mobil dan pengeras suara kemudian diikuti oleh orang-orang yang membawa map atau kotak amal, dia selalu keluar untuk memberikan sedikit uang receh, dia pikir… itu itung-itung untuk tabungan kita di akhirat nanti, tapi ternyata kebiasaan memberikan sumbangan itu kali ini ada yang memprotesnya, yang tiada lain si mbak Yem itu, ketika dia tanyakan sama mbak Yem, kenapa dia melarang orang untuk beramal, akhirnya si Mbak Yem cerita sama temenku kalau di kampungnya itu, rata-rata orangnya cukup berada, yang dimaksud berada disini bisa dikatakan kaya untuk orang ukuran orang kampung, ini bisa dilihat dari rumah yang besar dan lebih nyaman ditambah lagi dengen kendaraan, meski tak jelas kendaraan apa yang dimaksud mobil atau motor, tapi yang pasti kehidupannya jauh lebih baik dari si Mbak Yem sendiri yang bekerja mengandalkan tenaganya. Dan ternyata orang-orang berada yang ada dikampungnya itu, banyak yang pekerjaannya dengan mencari sumbangan seperti itu, si mbak Yem juga menjelaskan sama temenku bahwa yang orang yang biasa datang membawa kotak amal atau map sambil menghimbau untuk beramal itu, kalau masih baru dan belum berani terjun kelapangan, sama bosnya yang ada di mobil biasanya diberi dulu pil anti malu begitu si Mbak Yem cerita, dugaanku pil yang digunakan mungkin itu sejenis pil koplo yang biasa dikomsumsi preman pasar, karena kalau extasi juga pastinya kemahalan, semenjak mendengar cerita itu temenku tak pernah lagi memberikan sumbangan pada orang-orang yang mancari sumbangan seperti itu, kalaupun memberikan sumbangan dia lebih suka ke tempat yatim piatu langsung atau ke tempat-tempat yang lebih jelas lainnya.
Aku termenung mendengar semua itu, dalam hati aku bertanya apa betul semua cerita itu…? Apakah karena kesulitan ekonomi hingga harus separah itu orang kita dalam mencari nafkah…? Apakah sudah tertutup sama sekali mencari nafkah dengan cara lain yang lebih pantas, layak dan terhormat….? Kalau mencari nafkah seperti itu meski punya rumah bagus dan kendaraan sekalipun, rasanya lebih mulia dan terhormat seorang pemulung yang setiap hari kerjanya mengaduk-ngaduk sampah di tempat pembuangan sampah. Memang sih tak ada paksaan dalam hal ini dan yang memberikannyapun hanya sekedarnya atau seikhlasnya, tapi bukankah itu juga temasuk memanipulasi…? Memanipulasi atas nama Yayasan atau apalah namanya tetap saja memanipulasi, tapi kupikir lagi… ini mungkin hanyalah oknum, tepatnya oknum yang tak bermoral, sungguh kasihan bagi orang yang benar-benar tulus ikhlas mencari sumbangan untuk kebaikan seperti pengelola panti asuhan misalnya, mereka harus ternodai oleh segelintir orang seperti itu, meski cerita tentang manipulasi memang bukanlah hal yang baru di negeri yang kita cintai ini, bahkan konon jangankan hal seperti itu, sumbangan korban bencana alam sekalipun masih bisa dimanipulasi, tapi aku rasa cukuplah itu hanya cerita tentang pejabat dan orang-orang pintar yang biasa minterin orang, kita yang buta hukum tak usahlah ikut-ikutan seperti itu.
Cerita seperti itu mungkin saja memang bener-bener terjadi, tapi terlepas dari semua itu, bukan maksud ingin menakut-nakuti hingga yang biasanya beramal jadi mikir-mikir dulu untuk beramal, kalau memang niat kita ingin membantu yang lemah, ya sudah biarkan saja, yang penting kita ikhlas… siapa tau itu memang menjadi amal yang bisa menolong kita untuk diakhirat kelak, mungkin semakin kita banyak yang peduli dengan sesama, Indonesia tercinta ini juga semakin baik, hingga tak ada lagi cerita kelaparan yang melanda suatu daerah, atau anak yang meninggal karena kekurangan gizi dan busung lapar, lagi pula kalau bukan kita siapa lagi yang menolong mereka.
No comments:
Post a Comment