Tetangga sebelah rumahku punya anak gadis yang sedang mekar-mekarnya, dia sangat cantik, dengan kulit yang putih dan hidung yang mancung aku yakin bukan hanya aku yang setuju dengan hal ini bahkan mungkin setiap orang yang melihatnya akan mengakui kecantikan gadis itu, dia anak tunggal yang tentu saja menjadi harapan besar satu-satunya bagi keluarga itu, aku cukup dekat dengan keluarga itu terutama papanya karena meski umur beda jauh tapi dalam masalah hoby lebih banyak kesamaannya, dari mulai ngutak-ngatik mobil, nonton off road, hunting foto sampe ke musik, papanya juga termasuk tetangga yang enak diajak ngobrol topik apapun yang dibicarakan selalu nyambung, dan yang pasti dialah yang selalu mengajariku bagaimana mumulai bisnis dari bawah.
Dari segi materi anaknya itu sangatlah diperhatikan, apapun yang diminta pasti akan dikabulkan, apalagi bila ingat papanya selalu bilang.. . “kita cari duit ini buat siapa sih…? kalo bukan buat anak…?” hmmm… punya orang tua seperti ini tentu saja sangat menyenangkan bagi anak apalagi bila itu anak tunggal karena segala fasilitas yang diberikan mutlak jatuh ketangannya tanpa harus berebut kakak atau adik, padahal pemberian materi secara berlebih dan tanpa kontrol yang ketat terhadap anak tentu saja dapat menimbulkan akibat, hal itu sudah pernah kuberikan masukan sama papanya ketika suatu hari aku jalan sama dia, tapi mungkin seiring dengan kesibukan menanggani bisnis-bisnisnya perhatian dan control terhadap anaknya itu semakin kendor.
Dari segi materi anaknya itu sangatlah diperhatikan, apapun yang diminta pasti akan dikabulkan, apalagi bila ingat papanya selalu bilang.. . “kita cari duit ini buat siapa sih…? kalo bukan buat anak…?” hmmm… punya orang tua seperti ini tentu saja sangat menyenangkan bagi anak apalagi bila itu anak tunggal karena segala fasilitas yang diberikan mutlak jatuh ketangannya tanpa harus berebut kakak atau adik, padahal pemberian materi secara berlebih dan tanpa kontrol yang ketat terhadap anak tentu saja dapat menimbulkan akibat, hal itu sudah pernah kuberikan masukan sama papanya ketika suatu hari aku jalan sama dia, tapi mungkin seiring dengan kesibukan menanggani bisnis-bisnisnya perhatian dan control terhadap anaknya itu semakin kendor.
Kedengaranya aku seperti orang yang sok tahu, sebenarnya sih tidak juga... aku bilang seperti itu pada papanya bukan tanpa sebab tapi karena akhir-akhir ini aku dan anaknya itu termasuk dekat, karena kedekatan itulah mau ga mau aku jadi tahu bagaimana sepak terjang anaknya itu diluar sana, meski memang masih dalam tarap bisa dimaklumi.tapi bagaimanapun bila dia terus seperti itu jelas… itu bisa menjurus merugikan dirinya, sebenarnya itulah yang tak ingin kulihat, jujur aku sayang sama dia seperti halnya sayangku pada adikku sendiri, aku selalu ingat papanya dulu ketika aku terpuruk dia dan keluarganyalah yang selalu membesarkan hati dan memberikan semangat, melihat anaknya seperti itu aku sedikit khawatir, berangkat dari situlah semenjak aku semakin dekat dengan anaknya itu aku selalu memberikan masukan yang baik agar dia tak begini dan tak begitu, tapi karena mungkin selama ini papanya ok ok aja… semua masukan yang ku berikan tak pernah ia hiraukan… dan satu yang tak kusuka darinya dia tahu kalau papanya percaya padaku justru itu yang selalu dia dijadikan tameng untuk menutupi semua sepak terjangnya diluar sana pada papanya.Sekali dua kali bahkan lebih… aku masih bisa memaafkan dia, aku katakan asal dia mau berjanji untuk tak mengulanginya ya sudahlah… yang artinya itu sekaligus berarti aku bisa dijadikan tameng bagi dia untuk papanya, tapi untuk kesekian kalinya aku jadi tak tahan, sampai suatu saat sekitar jam ½ 3 pagi pintu rumahku diketuk dengan keras sampai aku kaget dibuatnya tapi aku sendiri memang sedang tak bisa tidur dan masih nonton tipi, setelah kubuka ternyata didepan pintu itu berdiri dia dengan wajah pucat pasi, setelah kupersilakan masuk dan menanyakan ada apa sambil sesunggukan dia minta tolong untuk mengurus semuanya.. aku hanya bilang sama dia “ya.. sudah… kamu tenangin diri dulu atau pulang dan tidur aja.. nanti biar aku yang ngurus semuanya..” aku hanya menganggap dia mungkin lagi sial, tapi pikiran itu tak lama karena sekilas kucium bau alchohol dari mulutnya aku langsung pandangi matanya.. itulah yang buat aku marah… jelas sudah dia buatku pasti pengaruh alchohol itulah yang menyebabkan kejadian itu.
Malam itu juga aku keluarin mobil dan berangkat ketempat yang dia maksud, cukup kaget juga ketika tahu angkot yang dia tabrak lumayan parah kaca belakang dan samping pecah serta bagian belakang yang masuk kedalam, aku tau itu pasti diseruduk dengan kecepatan yang lumayan makanya sampai separah itu, tapi ya sudah… itu memang sudah terjadi… demi menjaga emosi sopir itu dan tak jadi urusan polisi yang pasti bakal lebih panjang.. malam itu aku beresin semuanya bahkan sampai mobil angkot yang ditabrakpun pagi buta itu juga kutarik masuk bengkel papanya yang kebetulan pegawainya masih sodaraku dan tinggal disitu,
Sebetulnya aku ingin diam atau menutupi saja yang terjadi seperti biasanya, tapi untuk kali ini rasanya itu tak mungkin apalagi ada kerusakan seperti itu yang tentunya meski tak ada korban nyawa sekalipun tetap saja akan ada pertanyaan, aku jadi berpikir mungkin saatnya papanya harus tahu semuanya karena bagaimanapun hanya papanyalah yang bisa menghentikan semua itu.
Dengan hati-hati dan wanti-wanti untuk tak marah sama anaknya aku mulai menceritakan sedikit tentang bagaimana anaknya, tapi ternyata… selama ini, anak itu cukup manis didepan keluarganya sehingga apapun yang terjadi diluar sana tak pernah sampai ketelinga papanya… justru papanya malah mencurigaiku kalau aku punya maksud lain… dituduh balik seperti itu tentu itu sangat tak mengenakan, aku hanya mengelus dada… dan sekali lagi dengan berat hati akhirnya harus ceritakan semua yang kutahu tentang anaknya berikut bukti yang bisa dicek kebenarannya.
Ada rasa bersalah dan tak tega berbuat seperti itu bagaimanapun anaknya itu sering juga menolongku, dan sama sekali bukan karena benci juga bila semua yang kutahu itu kubuka, tapi kulakukan semua itu karena bener-bener sayang sama dia jangan sampai dia melangkah terlalu jauh dengan hal yang tak baik.Aku tahu dan aku bisa mengerti bila dia sangat marah... karena merasa dunianya diusik aku juga bisa terima dengan lapang dada bila semua telp. sms, E-mail selalu dia kirim dengan nada kebencian yang sangat, karena bagaimanapun aku juga pernah muda dan bukan tidak mungkin akan berbuat seperti pula, tapi aku percaya suatu saat kelak dia akan berterima kasih dengan apa yang kulakukan sekarang… suatu saat kelak dia akan semakin menyadari kalau yang pernah dia lakukan akan merugikan diri sendiri dan masa depanya.

No comments:
Post a Comment