Hari masih pagi dan sepi ketika itu. Seperti biasa bila tunggu temen dan sudah sampai disitu, aku langsung cari tempat duduk, pesen kopi dan keluarkan rokok., tuk ngusir kejenuhan. Sekilas kuperhatiin lingkungan, semuanya biasa-biasa aja seperti pagi-pagi sebelumnya, kios kios yang berjejer sepanjang stasiun UI itu masih banyak yang belum buka dan orang yang lalu-lalangpun masih sedikit, mungkin juga karena hari itu adalah hari sabtu, dimana banyak kantor yang libur, hingga terasa lebih sepi dari hari-hari sebelumnya. Sehabis ngopi dan masih tetep dengan rokok di tangan, aku jalan-jalan di sekitar itu, menikmati pagi sambil perhatiin lingkungan, tak lupa kukeluarkan camera jaga-jaga kalo ada moment yang bagus untuk difoto, Tapi sayang, saat itu rasanya tak ada moment yang bagus untuk diabadikan, selain orang gila dengan celana robek hampir separuhnya, yang bolak-balik dari ujung ke ujung stasiun, sambil bersenandung tak jelas judul lagunya apa.Ketika langkah kakiku sampai juga diujung stasiun itu, ada yang menarik perhatianku ketika kulihat seorang ibu, duduk bersimpuh diujung peron, karung disampingnya penuh dengan gelas-gelas plastik bekas minuman, yang biasa dijual di kereta. Dia begitu tekun dan cekatan. Pertama dia keluarkan seluruh isi karung itu diatas peron, baru kemudian dia keluarkan silet untuk membuang satu demi satu tutup plastik gelas itu, kemudian gelas yang sudah dibuang tutupnya itu disusun bertumpuk, tujuannya supaya rapi dan tak memakan tempat dalam karung, sehingga karung itu bisa memuat gelas-gelas itu lebih banyak lagi. Dia begitu sama sekali tak takut tangannya kena gores silet yang tajam itu, asyik sendiri sehingga tak begitu perhatikan orang sekitar. Karena penasaran, akhirnya kudekati dan lama juga kuperhatiin Ibu itu, sampai akhirnya aku tak tahan juga untuk tak bertanya ini itu. Dimulai dengan menawarkan rokok, karena kulihat tadi si ibu itu merokok, akupun mulai bertanya dari mulai jam berapa dia mulai kerja, berapa lama ngumpulin gelas2 plastik itu hingga bisa dijual, berapa yang ia peroleh dalam sehari, sampai tentang keluarganya.
Aku hanya bisa terenyuh dengar semua penuturan si Ibu itu, bayangkan...! saat orang lain tidur lelap dibuai mimpi, dia sudah telusuri semua tempat yang memungkinkan ada gelas-gelas plastik itu dibuang orang dan berakhir larut malam, hujan dan panasnya terik matahari, bukan alasan untuk tak kerja, masuk pasar, stasiun, bahkan ikut dalam kereta. Dia sudah sama sekali tak memperdulikan lagi yang namanya keselamatan diri sendiri atau keselamatan kerja dan tetek bengek yang biasa diterapkan di perusahaan perusahaan, misalnya bila sedang memungut gelas-gelas itu di rel stasiun, lalu kereta datang, dia cukup masuk ke gorong-gorong bawah peron yang hanya beberapa cm dari kereta lewat, padahal bila sedikit saja badannya keluar, bukan tidak mungkin bukan hanya tangan atau kaki yang hilang, tapi juga mungkin nyawanyapun ikut melayang. Lalu berapa penghasilan mereka sampai sedemikian nekat seperti itu…? Coba aja hitung sendiri, bila dalam satu kilo plastik hanya dihargai sekitar Rp. 3000, dalam satu kilo itu sendiri… kalau gelas plastiknya sedikit tebal, itu sekitar 100 gelas, tapi kalau gelas plastik itu tipis, bisa mencapai 150 gelas… bisa anda bayangkan, berapa ribu gelas… yang harus dia kumpulkan hanya untuk mendapatkan Rp. 20. 000 / hari, padahal itu artinya berapa tempat yang harus disambangi dalam sehari…? Berapa bahaya yang harus dia tempuh demi untuk gelas-gelas itu..? itupun kalau dia beruntung bisa dapat segitu dalam sehari, terkadang hanya setengahnya saja, mungkin sudah untung.Bagi sebagian orang, mungkin uang segitu untuk parkir saja kurang, apalagi makan di resto, itu jelas sangat jauh, sekali lagi aku hanya bisa terenyuh bila liat ironi seperti itu. Aku hanya bisa miris, bila melihat tayangan sinetron di tipi, yang hanya bergumul dengan harta dan harta dan segala macam kemewahannya, padahal kenyataan didepan mata, sangat banyak orang yang kehidupannya seperti itu.
Di Negeri tercinta yang konon katanya sangat kaya raya dengan hasil alamnya ini, entah berapa orang yang hidupnya seperti itu, tanpa kehidupan yang layak, pendidikan, apalagi masa depan. Belum lagi ditambah dengan berbagai bencana, yang tentunya menyumbang juga jumlah orang yang kesusahan. Andai saja ada suatu program pemerintah yang lebih jitu tepat sasaran, bisa menyentuh mereka lebih menyeluruh untuk meningkatkan tarap hidup mereka, pendidikan mereka, sampai masa depan mereka. Andai saja program yang ada sekarang ini tidak hanya jadi ajang korupsi subsidi orang-orang pintar untuk memperkaya diri sendiri, mungkin kita tak kan melihat lagi hal seperti itu.Aku bersyukur selama ini aku diberikan kemudahan oleh Tuhan meski memang belum mencapai seperti yang diinginkan, tapi paling tidak... kehidupanku lebih baik dari mereka dalam mencari makan. Tapi hanya dalam mencari makan karena dalam hal lain itu, dalam hal kebahagian misalnya… siapa tahu mungkin mereka lebih bahagia dari kita, Wallohualam.

No comments:
Post a Comment