Jangan… Ayang…! jangan suka ikut-ikutan…! begitu lirihku seraya memegang tangannya untuk menenangkan dia, tapi saat orang yang berambut cepak itu menjambak kerah baju laki-laki itu dan menyeretnya ke halaman yang agak gelap, seolah tak memperdulikan kata-kataku dia terus saja nyerocos sambil bolak-balik dari halaman perkantoran itu ke arah jalan raya yang memang hanya berjarak 2 meteran itu, dia semakin tak tenang, tengok kanan kiri seraya berujar “sayangnya… tak ada polisi disini…” apalagi ketika orang yang berambut cepak itu mengeluarkan pistol dari saku celana trainingnya dan menodongkan ke arah kepala laki-laki itu sambil menampari, dia semakin kenceng aja berbicara… “iya… kan… bener... kan…! apa yang kubilang tadi…! pasti deh….! Semena-mena….! Pasti deh.. main pukul….!” Sekali lagi kupegang tangannya sambil berbicara sedikit pelan agar tak terlalu terdengar sama orang yang sedang emosi itu… “Ayang…. Kalau orang lagi panas seperti itu jangan suka –ikut-ikutan… salah-salah kita nanti yang kena sasaran… !, Jujur saja aku masih khawatir apalagi saat orang yang berambut cepak itu mengacung-ngacungkan pistol kearah muka laki-laki itu, aku khawatir kalau-kalau orang itu lupa diri itu malah emosi dan melampiaskannya ke arah kita. Dibilang seperti itu dia malah keluarin ponselnya seraya berkata “awas jangan ngalingin….! Aku mau foto dia…! aku punya temen di mabes…! Aku mau laporin oknum yang seperti itu…! Aku muak liatnya…!” sehabis ambil gambar dia langsung mencatat mobil dan nopol yang dipake sirambut cepak itu diapun kirim sms pada temennya yang dimaksud itu. Itulah yang terjadi saat sepulang kerja didepan halaman perkantoran tempat melepaskan lelah dari kemacetan lalu-lintas, sebelum berpisah dengannya menuju rumah masing-masing.Apa sih….! yang menyebabkan orang itu harus mengeluarkan pistolnya segala…? Apakah teroris yang biasa membom gedung-gedung itu…? Atau mungkin penjahat kambuhan…? atau kepala rampok yang nekat dan sama pegang senjata juga…? Atau mungkin aggota separatis pro kemerdekaan dan ingin mengacaukan Negara Kesatuan Indonesia…? Ternyata tidak… persoalan sebenarnya hanyalah persoalan yang sangat sepele… laki-laki yang ditenteng kerahnya dan ditodongin pistol itu hanyalah laki-laki yang sedang sial aja, dia melakukan kesalahan kecil yang mungkin setiap orang suatu saat harus mengalaminya bila membawa kendaraan, persoalannya hanyalah masalah bemper mobil bagian belakang yang tersenggol sayap motor bebek saat macet, mungkin lecetpun bemper mobil itu tidak… kalaupun lecet.. pastilah hanya lecet yang tak akan kelihatan karena kecilnya, karena yang aku tau sayap motor bebek itu hanyalah terbuat dari plastik, bukan seperti sayap motor vespa yang memang dari besi. Dan senggolannya sendiri tidaklah terlalu keras. Dipertigaan Cimanggis itu traffic light sedang menyala merah otomatis semua kendaraan berhenti, tapi yang namanya pengendara motor apalagi bila ada dibelakang, karena merasa kendaraannya kecil, dia akan masuk melalui celah diantara mobil2 itu, tapi mungkin entah karena tak hati-hati atau mungkin juga karena tak sadar sehingga tangannya lupa menarik gas dan terjadilah senggolan itu, siapa sih yang tak marah bila bemper mobil mewah disenggol motor seperti itu…? Tentu semua orang pasti ingin marah, tapi masalahnya apakah bijak juga bila lantas orang yang bersalah itu kita tamparin…? apakah tak ada cara lain yang lebih baik selain dari itu… dengan dialog misalnya…? Bawa ke kantor polisi dan suruh ganti bila memang ada yang lecet misalnya..? Ok lah… kalau memang jengkel banget sama orang itu, dan badan kita lebih besar dari dia.. tampar mungkin masih bisa diterima, tapi bila pistol yan
g nyata dibeli oleh uang rakyat dan untuk melindungi rakyat itu diacungkan ke kepala yang hanya bersalah seperti itu rasanya itu sudah sulit diterima akal sehat, karena aku yakin saat dia menerima pendidikan baik itu di AKPOL maupun AKABRI sekalipun tak diajarkan orang yang kesalahannya sekecil itu harus diintimidasi dengan pistol yang diacungkan ke kepala… lalu apa jadinya bila tanpa sadar dia menarik pelatuk dan DOR….!!!! Berantakanlah kepala orang yang hanya kesalahanya sebatas itu… apakah hanya akan cukup dengan meminta maaf dari jajarannya…?. Melihat ketakberdayaan dan ketakadilan seperti itu… bukan hanya aku dan orang yang ada disitu saja yang tak suka atau mungkin muak, bahkan mungkin atasannya sendiri atau komandannya atau apalah namanya… mungkin akan sama dengan persaanku bila melihat hal seperti itu, rasanya sudah tak pantas dijaman yang mengedepankan teknik persuasif seperti sekarang ini, masih ada orang atau oknum yang seperti itu yang tak ada bedanya dengan preman di Pasar Tanah Abang, dia tak sadar bahwa fungsi dia yang sebenarnya itu mengayomi dan melindungi dan bukan menakut-nakuti seperti itu, seharusnya dia bisa lebih menahan emosi apalagi bila yang dihadapi itu hanyalah orang kecil yang mungkin tak berdaya, aku jadi berpikir mana yang sebenarnya harus dikasihani, Oknum yang tak sadar diri itu…? Atau siapa…?

No comments:
Post a Comment