Tuesday, April 3, 2007

MESJID

Entah yang keberapa kali dalam bulan terkahir aku masuk dalam mesjid ini, hanya untuk melakukan sholat isya, kebetulan setiap sampai dimesjid ini selalu saja malam, biasanya sampai disitu sekitar jam 10 malam, tapi meski sudah beberapa kali aku datang ke tempat ini, aku selalu kagum dengan ornament yang ada di mesjid, yang konon katanya di bangun oleh mantan orang kedua di negeri ini, mesjid ini tergolong mesjid yang megah dan yang menjadi istimewa mesjid ini satu-satunya diantara hamparan teh yang hijau dan berudara dingin. Entah kenapa bila sudah masuk mesjid ini, rasanya ada ketenangan lebih yang kudapat, hingga baik dalam sholat maupun do’a yang kupanjatkan setelahnya, rasanya aku lebih khusu. Sehabis sholat dan berdoa biasanya aku keliling melihat ornamen ornamen itu, sementara dipojok ruangan selalu dan selalu setiap ke sini ada anak kecil yang sedang membaca ayat suci, tentu menambah ketenangan hatiku, aku hanya berpikir, andai dalam lingkungan pekerjaan atau rumah aku bisa mendapatkan ketenangan seperti ini, mungkin hidupku lebih terarah, mungkin apa yang kuinginkan bisa lekas tercapai, dan berbagai mungkin lainnya yang ada di kepala.

Sambil rebahan dan melihat atap dalam mesjid itu, aku teringat lagi semua persoalan yang ada dalam kehidupanku. Satu persatu perjalan hidupku terutama yang terburuk lewat dalam pikiranku, membuat aku rasanya sumpek dan serasa terhimpit, dengan ketenangan yang kudapat dimesjid itu, seketika saja aku jadi teringat lagi akan ucapan Ibu dikampung, yang selalu mengatakan “masalah itu ada karena kita sendiri yang membuatnya… bila kita hidup lurus dan berada dijalan Ilahi, Insya Alloh, masalah tak akan hinggap didiri kita, kalaupun ada… pasti kita akan segera tahu jalan keluarnya, Allah tak akan memberikan ujian sama kita kalau kita tak kan mampu untuk menerimanya, segala masalah kita kembalikan lagi kepadaNya dengan beribadah dan menerima masalah atau persoalan itu dengan sabar dan tawakal. Begitulah ibuku selalu berbicara, tidak sama aku atau kakak2ku, bila menceritakan masalah padanya, dan biasanya, aku selalu tenang bila sudah mendengar perkataan seperti itu, aku teringat lagi temenku seorang sales yang handal, dia selalu mengatakan tak ada masalah yang tak bisa dipecahkan, tak ada persoalan yang tak bisa dinegosiasikan, hanya saja kita harus lebih tenang dalam menghadapinya, dalam hati aku berbisik, mungkin selama ini aku kurang tenang.

Hembusan udara dari luar semakin dingin, tak terasa aku rebahan di mesjid itu sudah satu jam lebih, aku keluar dan seperti biasa, setiap aku datang kesitu sehabis sholat, aku menuju tukang kopi untuk menghangatkan badan, tapi kali ini aku ingin berterima kasih pada anak itu, yang telah membaca ayat suci dan membuatku rasanya lebih tenang ketika melamun tadi, ketika melangkah keluar, kuajak serta anak itu untuk makan mie sekalian berikut adiknya.

Dari obrolan sambil makan mie itu, aku jadi tahu kalau anak-anak itu sebenarnya sama saja seperti anak jalanan yang lainnya, seperti halnya yang ada di Bogor, Jakarta, dalam KRL atau anak jalanan dikota-kota lainya, yang saat ini semakin banyak saja. Hanya saja berkat kebaikan pengurus mesjid, mereka boleh ada disitu dan diperbolehkan belajar mengaji pula, aku terenyuh mendengar semua penuturan jalan hidupnya. Dari mulai dipaksa mengemis oleh preman dijalan-jalan ibukota , sampai berkahir dimesjid itu. Bagaimana tidak terenyuh, bila diusia sebelia itu yang seharusnya menikmati masa bermain dan sekolah, sama sebayanya, dia dan adiknya malah harus mengais rejeki, hanya untuk sekedar makan. Padahal resiko yang harus ditempuh sangatlah besar, baik itu dari kendaraan yang ada dijalan raya, preman yang mengelolanya, maupun dari pengemis lain yang lebih besar dari mereka. Bahaya selalu mengintai mereka setiap saat, tapi masih beruntunglah dia dan adiknya bisa terdampar disini, minimal disini sedikit lebih aman, yang penting lagi, disinilah dia bertemu dengen orang yang baik hati, memberikan pengetahuan agama, meski kehidupannya sehari-hari disitupun, hampir sama saja dengan dulu, siang dia bisa jadi tukang semir sepatu bahkan menjualkan barang dagangan orang lain diareal parkir mesjid itu.

Bagi dia dan adiknya apapun pekerjaan itu, yang penting halal dan bisa untuk makan, meski terkadang mereka harus puasa juga karena memang keadaan, tapi masih untunglah dia sudah mengerti tentang puasa. Ketika aku bertanya tentang ibu dan bapaknya, dia tak bisa jawab lebih jauh, dia hanya bilang entah dimana dan mereka sendiri sudah melupakannya. Aku tak tahu entah apa yang ada dipikiran mereka, entah dendam dan memang mungkin sudah tak ingin lagi mengenal ibu bapaknya lagi atau mungkin juga memang sudah lupa sama sekali dengan kedua orang tuanya itu, tapi yang pasti mereka sepertinya enggan menceritakannya, hingga akhirnya aku suruh mereka masuk lagi mesjid dan bergabung lagi dengan temen-temennya.

Sampai dipenginapan itu jam 2 pagi, aku tak bisa langsung tidur, teringat lagi pada diriku, selama ini, aku merasa bukan orang yang beruntung dengan semua persoalan yang ada padaku. Selama ini rasanya Tuhan telah tak adil dengan memberikan semua persoalan hidup yang berat itu padaku, tapi bila melihat lagi mereka…mengingat lagi anak-anak itu…? Sepertinya aku dapat pelajaran yang lebih berharga dari apapun, ternyata dalam hidup kita ini, ada yang lebih tak beruntung dibanding semua persoalanku, sebetulnya aku jauh lebih beruntung dari mereka, kehidupanku laebih nyaman dari mereka, aku semakin sadar… selama ini aku mungkin kurang bersyukur dengan nikmat yang Tuhan berikan, selama ini… aku telah lupa bahwa ada orang-orang yang mungkin hidupnya lebih menderita dibanding persoalan dalam kehidupanku, tapi mereka lebih menganggap itu hal biasa dan tak menjadikannya sesuatu hal yang sangat besar dalam menjalani hidup ini. Mereka masih bisa tertawa lepas meski dalam hal lain tentu sangatlah mengkhawatirkan. Ampuni Aku Tuhan…

No comments: