Tuesday, April 3, 2007

MAJALAH PLAY BOY

Setiap pagi kedai kopi pinggir jalan itu, seperti biasa sudah dipenuhi pelangganya, begitu juga dengan pagi ini, disitu sudah terlihat Mas Naryo yang penampilannya selalu necis, Bang Windu yang bicaranya selalu ngocol dan blak-blakan, Mas Prass yang pendiem atau entah jaim (jaga image), Pak Mansyur yang mirip professor, Arief yang selalu tak lepas dari XDA O2 nya entah apa yang selalu dilihat dan Pak Amir teknisi di sebuah kantor deket situ, pemilik kedai kopi kang Asep yang asli Sumedang itu sepertinya sudah hapal betul sama keinginan pelanggan tetap paginya itu, makanya bila ada yang datang dan pesan sesuatu, apakah manis, pahit, atau bahkan teh manis sama dia sudah tak perlu bilang lagi.

Sambil cengar-cengir Mas Naryo menggeser tempat duduknya mendekati Bang Windu dan sambil sedikit berbisik dia Tanya “Bang….! dah pernah beli majalah Play Boy Belon...? ” tapi Bang Windu yang memang suaranya ga pernah disaring seperti tak mengerti kalau bisikan itu mestinya dijawab dengan bisikan juga, seperti biasa bicara sedikit kenceng sampai terdengar yang lainnya “Boro-boro beli majalah Play Boy Mas….! Liat sampulnya aja belon...!, orang susah seperti Abang ini… mane punya temen yang biasa main keluar negeri…. Mas…!. itu kan beredarnya aje negeri luar sono…!” kata Bang Windu. “lagian buat apaan sih Mas…? majalah gitu kan hanya bikin kita nambah dosa aja… Zinah Mata tuh…! seloroh Kang Asep ikut menimpali sambil memberikan kopi yang diminta Mas Prass, tapi mungkin karena tanggung sudah malu kedengeran sama semua orang yang ada disitu ngomongin majalah mesum itu, mas Naryo lanjutin perkataannya, tapi kalo tadi berbisik sekarang mulai agak kenceng bicaranya “Aku sih yakin orang orang seperti kita juga… ada yang sudah pernah liat meski belon pernah keluar negeri sekalipun, meski mungkin banyak juga yang belum...!” Bang Amir yang lagi makan tahu isi jadi ikut nimbrung “Orang beredarnya aje diluar negeri… kalopun ada yang menjualnya disini… pasti sangat mahal…. !” kata dia sambil lanjutin lagi makan tahu isinya, mungkin dipikirannya disamain dengan keadaan ekonomi di rumahnya.
“Oh… jadi majalah Play Boy itu emang ga semua orang juga bisa liat juga yah… kirain tuh seperti majalah biasa seperti yang biasa dilihat di tempat si Kosim jualan itu bang….!” Kata Kang Asep sambil manggut-manggut, begitulah awal perbincangan ala warung kopi pagi itu.

Mas Naryo yang Memang mungkin mengikuti perkembangan jaman itu, melanjutkan lagi pembicaraan “Eh… khabarnya… kalo ga berubah sih katanya yang versi Indonesia itu, Maret ini mau beredar…!, mungkin itulah yang bikin heboh dan membuat orang jadi penasaran…!” sambil mengeryitkan alisnya mengingat-ingat, atau mungkin dia sendirilah yang penasaran. “Mas Prass….! Dah tau belum majalah itu seperti apa….? maksudnya yang versi Indonesia itu… lah…!” Tanya Mas Naryo lagi, kali ini dia melirik orang disebelahnya yang lagi nyeruput kopi, tapi kali ini pertanyaan Mas Naryo kena batunya karena kelihatannya Mas Prass itu tak begitu suka dengan hal-hal seperti itu “Mang aku ini orang yang suka cari-cari yang seperti itu apa…hati-hati ah.. kalo ngomong…. Liat-liat wajah dulu aku ini wajah mesum apa bukan…? Timpal Mas Prass dengan sedikit sebal karena seolah dituduh suka cari-cari gambar seperti itu… “lagian…. yang versi itu kita juga belum tahu nantinya seperti apa…! tapi yang pasti sih… yang diuntungkan justru majalah itu sendiri Mas…!, dengan dirame-ramein seperti sekarang ini otomatis itu adalah promosi gratis buat mereka, makanya… kita belum pernah denger sanggahan atau apapun dari pihak Play Boy sendiri”, kata Mas Prass, yang memang dia juga ngikutin berita itu baik ditipi maupun internet, “Padahal…. Nih… kita tau majalah itu sendiri nantinya harus bersaing dengan majalah sejenis yang sudah beredar lebih dulu dinegeri ini…. Kalo ga percaya…. Coba aja Mas acak-acak tiap toko buku atau kios majalah diemperan itu, nah….! Justru itu… belum apa-apa sudah diributkan gini buntutnya… yang untung… kan… malah majalah itu sendiri…! tul ga Mas Prass…?” Kata Bang Windu dan diaminin sama Mas Prass.

“Iya…. bener juga Bang… Liat aja berbagai pihak dan elemen masyarakat Pro dan kontra seputar rencana masuk dan beredarnya majalah itu, sudah sering kita lihat di berita bahkan ada yang memberikan penolakan langsung terhadap rencana tersebut, dari mulai yang melihat dampaknya yang akan merusak ahlak, aqidah dan iman generasi muda seperti yang di komentarkan para ulama bahkan berbagai alasan lain dan umat beragama lainpun sama memprotesnya,” gumam Pak Mansyur sambil ngelus jenggot. “Kalian tau fatwa MUI tentang pornografi dan pornoaksi…? Nih… kebetulan Bapak bawa sedikit catatan fatwa MUI kata Pak Mansyur sambil mengeluarkan sebuah catatan dan membacakannya “ yang menggambarkan, langsung atau tidak langsung, tingkah laku erotis, lukisan, gambar, tulisan, suara reklame, iklan dan ucapan, baik melalui media cetak, elektronik yang dapat membangkitkan nafsu birahi adalah HARAM.” Begitu Pakl Mansyur menuturkan, itu baru salah satu diantaranya katanya, sebenarnya sih masih banyak lagi fatwa tentang hal ini yang dikeluarkan MUI. Kata dia mengahirinya. “Bahkan nih…! susul Mas Prass.... “di Gedung DPR sana…! saat ini sedang dibahas Rancangan Undang Undang Anti Pronografi dan Pornoaksi, ya… mungkin harapannya sih... tentu bila undang undang itu di sahkan menjadi undang undang dapat menjadi rambu untuk menilai apakah itu porno atau bukan… jadi kalau memang nantinya itu termasuk…. Artinya… ya… wasalam… juga buat yang seperti-seperti itu….“. kata Mas Prass diakhiri dengan mengisap rokoknya dalam-dalam. Mas Naryo tak mau kalah setelah merenung sesaat, mengingat lagi yang tadi dibacanya dikoran propokator, dia mengajukan lagi pertanyaan sama Mas Prass yang kayaknya lebih tau banyak tentang hal ini, “Mas…! bukanya pihak play boy sendiri janji isinya mau disesuaikan dengan culture, nilai serta aturan yang ada di Indonesia…? Dan lagi kasian kan… konon katanya Lisensi yang sudah dikantongi dari Nopember 2005 itu harus membayar 1 milyar rupiah segala…?”, Tanya Mas Naryo, tapi pertanyaan itu langsung dipatahkan sama Pak Mansyur, “iya… sih…! tapi kalau itu hanya akan merusak moral bangsa jangankan 1 milyar 1 trilyunpun bila perlu diberangus…. ya… diberangus aja…!, selama ini kan Polisi susah bertindak juga, karena salah satu yang menjadi kendala hukum media yang diduga menyebarkan pornografi adalah soal istilah dan batasan sesuatu itu dinilai porno atau tidak”. Jadi mungkin agak ribet juga.

Arief yang dari tadi hanya kutak-katik XDA O2 nya tiba-tiba menyodorkannya ke depan Mas Naryo “nih… Baca Mas… aku dapat dari internet nih…!” ternyata disitu terlihat tulisan “Jika terbukti melanggar Undang Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik akan dilakukan hukuman dengan mengumumkannya dimedia cetak dan elektronik. Sedangkan bagi media yang jelas-jelas menampilkan gambar-gambar porno tindakan hukumannya dilakukan polisi sesuai dengan KUHP. Dewan Pers akan mendukung sepenuhnya langkah polisi menindak pelaku-pelaku yang menyebarkan pornografi.” Entah itu Undang Undang atau apa karena Mas Naryo sendiri memang buta hukum tapi kayaknya dia mulai paham ternyata pemerintah juga tak tinggal diam begitu yang ada dipikirannya.

Mas Naryo… yang memang OMES (otak mesum) tak enak hati, pagi ini rasanya dia seperti didakwa orang-orang dan merasa menjadi orang kotor yang berdiri ditempat orang-orang bersih, dia mulai iseng melontarkan pertanyaan, “sekarang gini… kita jujur-jujuran deh…. Aku tanya pandangan kita sebagai laki-laki… kalian seneng ga… kalo liat gambar-gambar seperti itu…?” Pak Mansyur yang memang sedikit mengerti agama dia langsung menjawab “Mas… yang jelas itu ga boleh… dilarang sama agama… dan haram hukumnya…!” begitu kata dia,” kalau Mas Prass…? “ Tanya Mas Naryo lagi, sambil melirik Mas Prass, Mas Prass menjawab… “bukan masalah suka tidaknya… Tapi bagaimanapun kita itu orang timur… aku rasanya koq risi ya…! melihatnya…. malu aja sebagai orang timur yang terkenal sopan santun trus lihat pose syur orang kita juga, seperti halnya liat Inul goyang sih terus terang malu liatnya tapi kalo liat Shakira sih…! kayaknya anteng-anteng aja,” itulah sanggahannya, “kalo gitu…. bagi mas yang versi Paman Sam masih tetep Ok dong…?” goda Mas Naryo sambil mengeryit-ngeryitkan alis mata, tapi Mass Prass ga jawab Cuma senyum aja, sekarang giliran dia melirik ke Bang Windu “Gimana kalo Abang….?” Sebelum menjawab dia malah tertawa dulu, ” Mas… Mas… lo…. kayak wartawan aja hari ini…! kalo buat abang sih….! Ngapain liat-liat yang gituan ga ada gunanya….! Pasti ga bakal jauh sama yang dirumah, isinya gitu-gitu juga….! Kan mendingan yang dirumah ga perlu ngeluarain puluhan ribu gitu….!” Kata Bang Windu sambil ketawa semakin kenceng, tak puas hanya sampai disitu sekarang giliran Arief yang dari tadi matanya tak lepas dari XDA O2 ditanya, Nah….. sekarang kalo lo Rief… gimana….? suka ga…. sama foto2 seperti itu…? Arief tak menjawab tapi dia buka file di XDA O2 nya, maju ke depan dan memperlihatkan film Porno sama Mas Naryo, tapi secepat kilat direbut sama Bang Amir yang dari tadi jadi pendengar aja, tapi karena penasaran akhirnya rame-ramelah di warung itu nonton cuplikan film porno itu, akhirnya Mas Prass sendiri tak mau kalah, ‘Kalo Cuma seperti itu aku juga punya”, kata dia sambil ngeluarin N.6600 nya dan buka juga file film yang gituan juga dan memperlihatkan film yang versi Indonesianya, kemudian diserbu juga sama yang ada disitu tak terkecuali Kang Asep dan Pak Mansyur ikut-ikutan penasaran juga, “kalo gitu nyalain aja bluetoothnya sekalian Mas…! biar tukeran sekalian…! Celetuk Bang Windu yang ikut-ikutan ngeluarin K. 700i nya. Dasaaar…..!

Yah… begitulah kenyataannya laki-laki.

No comments: