Thursday, April 5, 2007

CERPEN LAGI NEEH… kasih judul ya...

Senja sudah menampakan redupnya ketika Eko dengan wajah lesu keluar dari kantor, tidak seperti dulu, jam pulang adalah jam yang selalu dinantikan, tapi sekarang ini, sepertinya dia semakin betah saja dikantor menenggelamkan diri dengan tugas-tugasnya, hari libur yang dulu selalu ia tunggu, sekarang ini menjadi siksaan berat yang harus ia jalani, karena hanya bisa menghitung hari dengan kesepiannya. Eko selalu merasa kebingungan manakala menghadapi weekend seperti ini, kemana….? mau apa…? Itulah yang selalu menjadi pertanyaan besar. apalagi ketika tadi siang Ibunya telpon mengabarkan bahwa, Ibunya yang datang jauh dari kampung telah sampai dirumahnya, semakin membuat sesak didanya. Alunan lembut Sade dari cassete, tak bisa menenangkan kagalauan hatinya, bahkan macetnya jalan raya tak berpengaruh banyak pada emosinya, karena saat itu memang hati dan pikirannya tak ada dibelakang kemudi itu, tapi tertuju pada satu nama yang selalu mengusiknya setiap saat, meski sudah lama berpisah dan tak pernah bertemu dengannya.

Kepergian Wina dengan pilihannya ternyata berdampak besar dalam kehidupan Eko, kini tak ada lagi optimisme yang selalu menggebu bila diajak membicarakan calon istri, dia bahkan menjadi tak suka membicarakan hal seperti itu, apalagi membicarakan agar segera mendapatkan pengganti Wina, sebenarnya bukan tidak suka, tapi dia sekarang ini lebih pasrah dengan keadaan, walau dia tahu target usia rencana menikah sudah semakin bertambah. Eko sendiri tak tahu kebohongan apalagi yang akan dia sampaikan kepada Ibunya, bila Ibunya menanyakan lagi hal ini, selama ini Wina memang sudah dikenal Ibunya dari foto-foto yang pernah dia lihat, tapi Eko sendiri sudah berbohong banyak pada ibunya tentang Wina yang akan jadi istrinya, Dia berbuat seperti itu tak lain, hanya karena ingin agar Ibunya tidak selalu menanyakan hal itu, tapi rupanya Ibunya tak sekedar ingin mendengar tentang hubungan keduanya sebatas pacaran, tapi hubungan yang lebih serius, itu dan itu yang selalu dia tanyakan ketika pulang kampung, apalagi setelah tak sengaja waktu itu Hp. Eko ketinggalan di rumah Ibunya dan Wina sms, Ibunya mulai ikut menyukai gadis itu, walau belum pernah melihatnya secara langsung. Dan kedatangan Ibunya kali ini disamping memang ada keperluan, tentu saja Ibunya ingin mengenal jauh tentang Wina yang selalu anaknya ceritakan, Eko hanya mengelus dada dan membathin ”maafkan aku Ibu.... aku tak bermaksud membohongimu... tapi aku juga tak suka dengan cara Ibu yang selalu mengenalkan anak2 kenalan Ibu padaku, hanya karena aku belum menikah” tapi sekarang setelah semuanya berakhir, dia kebingungan memikirkan semua itu, bahkan tabungan sakral yang seharusnya buat biaya pernikahan, sudah dia habiskan untuk memperbesar modal bisnis sampingannya, semua itu ia lakukan untuk melupakan semua harapannya selama ini.

Dari semula sebenarnya Eko sudah melatih menegarkan diri, bila suatu saat Wina harus pergi, karena dia menyadari betul, mencintai Wina, itu artinya ia harus siap dengan kekecewaan, mencintai Wina sebenarnya adalah suatu kemustahilan mendapatkan kemenangan, tapi meskipun demikian, dia tak menyangka bila ternyata, kebersamaan yang terjalin satu tahun lebih itu, sangatlah berarti dalam hidupnya, bahkan nama itu pula yang bisa menutup hati dan pikirannya setiap ingin membuka lembaran baru. Nama itu terlampau besar dihati Eko, sehingga yang datang dikemudian hari setelah Wina pergi, selalu tak sebanding dengan namanya. Tak dapat dipungkiri karena dari beberapa gadis yang pernah dekat dengannya, hanya Winalah yang pantas dia cintai. Dimata Eko, Wina tidak saja cantik, manis, dan smart, tapi Wina adalah pribadi unggulan dan mandiri, yang selama ini dia cari. Eko merasa sangat bahagia bila dekat Wina, dia rela menunggu lama dipelataran kantor Wina saat hujan deras, rela mengantar Wina kemanapun pergi meski mengaduk ngaduk belanjaan dipasar, yang selama ini tak pernah ia lakukan, Wina pula yang selalu bisa membuat Eko punya rasa cemburu sehingga harus memikirkannya sepanjang malam, bahkan apapun yang diperbuat Eko selalu tak pernah lepas dari untuk Wina, bagi eko Wina adalah segala-galanya.

Perkenalan dengan Wina sebenarnya tak terlalu istimewa, setelah kenal, Eko memberanikan diri mengajak nonton, jalan bareng sepulang kerja, bahkan pergi ketempat wisata, tak ada yang lebih istimewa dari itu, semua berjalan apa adanya, Eko sendiri sebenarnya bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Dia adalah pria dewasa dan baginya tak ada cinta pada pandangan pertama, sebuah cinta haruslah memerlukan proses, witing tresno jalaran soko kulino, nah seperti itulah mungkin yang dianut nya. Bagi dia mungkin saja dia jalan dengan gadis itu kemanapun mereka mau, tapi rasa cinta tidak secepat itu datang, apalagi saat itu dia sendiri sedang ada diujung tanduk dengan seseorang dari masa lalunya. Masih segar diingatan ketika Wina mengatakan ”Mas.... kita berteman aja ya...?, begitu pinta Wina pada suatu saat, ketika mereka ada dihamparan teh, Eko hanya bisa mengangguk mengiyakan apa yang dipinta Wina, tapi kemudian Eko mulai berbicara ” Win... bagitu komplek masalah yang ada didiriku.... aku sendiri tak tahu akan seperti apa jalan hidupku nantinya”, itulah yang Eko katakan sambil merebahkan diri dipangkuan Wina, Eko menceritakan semua tentang masa lalunya pada Wina, tanpa satupun yang dia tutupi, Eko tak mau bila suatu saat ia bersama Wina dapat menjalin kasih, Wina mendengar semua masa lalunya dia dari orang lain. Sebenarnya mulai saat itulah benih cinta tumbuh dalam diri Eko, dia menjadi semakin yakin, kalau orang seperti Winalah yang paling tepat untuk mengisi harinya, dimasa yang akan datang. Dalam benak Eko, meski Wina mengatakan hanya ingin berteman seperti itupun, bukan tak mustahil bila suatu saat, dia akan bisa merebut hati Wina. Apalagi setelah Wina cerita, tentang calon suaminya yang jauh diluar kota sana, yang semakin tak peduli tentang kesepian-kesepianya selama ini, ”Win... kita jalani saja apa yang bisa kita jalani dan biarkan waktu yang menentukan...” begitu lirih Eko ditelinga Wina seraya memeluk Wina dengan erat seolah tak ingin melepaskannya lagi. Sesaat mereka saling pandang dengan mesra, mencoba menyelami arti semua itu.

Waktu terus bejalan, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan seterusnya, yang pasti keduanya samakin lengket, menghabiskan hari libur berdua selalu menjadi angendanya, semakin mengenal Wina, cinta dihati Eko semakin besar, tapi disisi yang lain, Eko sendiri sadar dan takut dengan hatinya, karena dia tahu dia tak mungkin bisa menang, bila suatu saat dia mengharuskan Wina untuk memilih antara dia dan calon suaminya, dia sadar betul bila Wina tak akan bisa mencintai Eko sepenuhnya, karena bagaimanapun Eko tahu, dimata Wina calon suaminya itu adalah segala-galanya dan tak ada yang bisa menggantikan itu, dan Eko....? bagi Wna tak lebih dari, hanyalah orang yang berada diwaktu dan tempat yang salah, Dia tahu Eko sangat mencintainya, dia tahu Eko sangat menyayanginya, wanita mana yang bisa menolak semua itu, walau dalam hatinya tak sedikitpun mencintai Eko namun tak ada salahnya bila diapun menikmati semua itu. Lain halnya dengan Eko yang sangat berharap lebih dari Wina. Itulah yang menyebabkan selama dia dengan Wina, Eko selalu ingin menguji, seberapa besar cinta Wina padanya, tapi setiap itu pula Eko merasakan kegundahan, karena dia semakin mengerti bahwa, Wina tetaplah Wina yang takkan bisa mencintai Eko sepenuhnya, Wina tetaplah Wina yang takkan bisa ia renkuh sekaligus dengan hatinya.

Masih segar diingatan Eko, pada suatu hari saat, mereka jalan berdua dan makan di suatu tempat, Eko mulai memberanikan diri mengungkapkan keinginannya, dalam benaknya, mungkin bila ini diungkapkan, itu bisa merubah pandangan Wina tentangnya... merubah pandangan, bila yang telah dia jalanin selama ini dengannya itu punya satu niat baik dan tulus, dia ingin bersungguh-sungguh ingin mempersunting gadis pujaannya itu, hanya saja Eko merasa malu dan takut kalau itu dibicarakan dengan serius, hanya akan ditertawakan Wina, ”Win... andai saja kamu mau jadi istriku.... aku pasti menjadi orang yang sangat bahagia...” seloroh Eko dengan nada bercanda, sekilas Wina memandang Eko, tapi dia juga menjawab dengan nada canda pula, meski Eko sendiri tahu sebenarnya Wina tidak bercanda ” iya.. ya... andai saja kita bertemu beberapa tahun yang lalu....” begitulah tutur Wina, Eko tahu kemana arah pembicaraan Wina selanjutnya, hingga ia harus menukasnya dengan candaan lain, untuk mengalihkan kepembicaraan menutup gundah dihatinya, Eko adalah orang yang pintar menutupi kegundahan dihatinya didepan Wina, dia terlihat seperti tidak terjadi apa-apa, padahal dalam hatinya ditengah candaan2 lain dia hanya membatin... ”Ya... Tuhan... sebegitu susahnyakah orang sepertiku, menginginkan gadis yang yang kucintai ini...?” saat itu di terus saja ngobrol dengannya tentang segala hal... tapi sebenarnya hati Eko sendiri entah sedang dimana.

Tak terasa perjalanan yang cukup jauh itu hanya dihabiskan untuk mengenang Wina dia baru sadar ketika pagar rumahnya sudah terlihat, eko berhenti lalu keluar membukakan pagar dan garasinya, tak lama kemudian muncul Ibunya dari dalam rumah, Eko langsung menghampiri dan mencium tangan Ibunya sambil menyapa, ”apa khabar Bu... Ibu sehat-sehat aja...? Ibunya tak lantas menjawab tapi matanya tertuju ke dalam mobil yang memang berkaca gelap itu, seolah-olah ada yang dicari. Baru kemudian dia menjawab, ”Alhamdulillah Ko... ibu sehat-sehat aja.... Lho... Wina koq... ga diajak kesini sekalian Ko...? kan tadi Ibu bilang di telpon... kalau bisa.... ajak Wina sekalian...

Tuesday, April 3, 2007

KEMBALI KE LAPTOP….!

This summary is not available. Please click here to view the post.

BANJIR DATANG LAGI

Banjir datang…! Banjir datang…! Banjir datang…! begitulah mungkin kira-kira teriakan orang-orang saat melihat begitu banyaknya air yang masuk rumah, merendam semua perabotan dan barang berharga. Sesaat mereka menjadi panik, sibuk menyelamatkan barang dan harta yang bisa diselamatkan , berpacu dengan naiknya air, dalam waktu hitungan menit bahkan detik, terkadang akal sehatpun sudah terbang entah kemana, terhempas dengan kepanikan, bahkan mungkin nyawa sekalipun bisa mereka pertaruhkan, sementara air semakin tinggi yang akhirnya mereka tak bisa pergi kemana-mana, selain menuju atap rumah, termenung memikirkan semuanya sambil menunggu pertolongan datang dengan perut yang kelaparan.

Kita hanya bisa terenyuh melihat semua itu, ya Tuhan… duh… kasian sekali mereka… itulah mungkin yang pertama keluar dari mulut kita, saat mendengar dan melihat temen atau sodara kita yang mengalami semua itu… terbayang barang dirumah kita, dari mulai tv, kulkas sofa, spring bed, motor bahkan mobil, yang kita kumpulkan dari yang mulai kita menabung dulu, baru setelah cukup kita beli, bahkan kita kita beli dengan cara memaksa diri atau kredit karena kita butuh dengan barang-barang itu tiba-tiba harus rusak, bahkan hancur seketika dan berjamaah, mungkin kitapun akan sama seperti mereka, termenung dengan perasaan yang hancur, seperti halnya air itu menghancurkan barang-barang kita. Belum lagi penyakit pasca banjir yang akan pasti akrab disekitar kita. Kiamat kecil… mungkin itulah gambaranya yang lebih tepat, untuk semua yang mereka alami.

Sampai hari ini, entah sudah berapa trilyun kerugian materi yang harus ditanggung… entah sudah berapa nyawa yang melayang dari kejadian kali ini… lalu siapa yang salah dengan semua ini… menyalahkan alam yang semakin tak bersahabat….? Menyalahkan penangan pemerintah yang lambat…? Menyalahkan diri sendiri yang masih saja bertahan di daerah itu….? Tentu saja semua itu tak berguna juga, bila semuanya telah terjadi seperti ini… dan lebih tragisnya lagi kejadian ini sudah kita bahkan pemerintah prediksikan… bahkan Gubernur Sutiyoso sendiri sudah mewanti-wanti akan siklus 5 tahunan yang berakibat banjir besar, ketika beberapa tahun yang lalu juga mengalami hal seperti ini, tapi tetap saja kita tak berdaya, karena kita tahu begitu komplek yang terjadi dinegeri kita.

Rasanya tak bijak juga bila kita hanya melihat dari tv dan merasa terharu dengan semuanya… disinilah mungkin kita harus lebih peduli dengan sesama… kalau bukan kita yang peduli.... siapa lagi…? sumbangan sekecil apapun akan bermanfaat bagi mereka yang mebutuhkan… bagaimanapun… mereka masih sodara kita… kalau memang kita bisa… silahkan anda datang… liat dan rasakan yang mereka rasakan… kemudian berikan sumbangan semampu yang kita bisa itulah mungkin yang diharapkan juga dari mereka yang tertimpa musibah itu dimanapun anda berada.

ANGIN SURGA

Orang-orang muda sekarang semakin pintar dalam mencari uang, mereka tak perlu susah susah membangun usaha atau bekerja mati-matian, tapi biarkan uang yang bekerja untuk mereka, caranya dengan menginvestasikan uang mereka dengan bermain valas dan bla...bla...bla penuturan dan iming-iming keuntungan lainnya. Itulah yang pagi ini kubaca dari harian ibukota. Sepertinya memang itulah cara mencari uang yang sangat mudah dengan keuntungan yang tak terkira, bandingkan kalau kita berinvestasi dengan mengelola toko misalnya, resiko tak laku, bayar yang jaga, tlp, Listrik, air, distibutor yang terkadang memusingkan kepala, dst. Dan itu semuanya nyata di depan mata.

Baca seperti itu, aku hanya bergumam dalam hati ”angin surga”. Memang sih tak bisa dipungkiri , ada orang yang berhasil dengan bermain valas seperti itu, tapi buatku itu tetap saja seperti angin surga, artinya surganya entah dimana, yang didapat hanya anginnya saja. Aku bersikap seperti itu karena mungkin lebih suka memilih bisnis yang real karena merasa lebih tenang. Kalau aku jual alat listrik dan tak laku, paling tidak aku masih bisa melihat mana yang tak laku, kalau aku jual beras dan tak laku, tentunya berasnya masih ada, kalaupun habis paling itu kita makan sendiri, persoalannya jelas. Tapi kalau kita rugi tanpa jelas ujudnya buatku itu sangat menyakitkan.

Investasi semacam ini mengingatkan kembali pada temen-temenku dikantor sekitar 3 tahun yang lalu. Aku punya teman sebutlah namanya Felix, usianya waktu itu sekitar 25 tahun, dia sangat hebat, aku termasuk yang mengagumi dia waktu itu. Gaji kami waktu itu tak beda jauh, tapi yang bikin aku salut, tak pernah dia memakai mobil sampai satu tahun, artinya belum genap satu tahun dia sudah ganti mobil, tak pernah memakai mobil second, dari mulai Kia Visto, Karimun, Stream sampai yang terakhir keluar Honda Jazz, diapun langsung ganti Jazz, coba bayangkan cewek mana yang tak tertarik dengan semua itu, ibarat lagu Bentonya Iwan Fals ”sekali lirik Ok sajalah” sebagai temennya aku hanya gelang-gelang kepala dan sedikit rasa iri ”Andai saja aku seperti dia”.

Bisnis apa sih dia diluar, hingga uangnya mengalir deras seperti itu...? orang tuanya kaya raya...? tidak juga....! punya perusahaan yang sama dengan besarnya tempat kita kerja...? rasanya tak mungkin juga....!, ternyata dia adalah broker valas sekaligus juga pemain, ini diketahui beberapa kali dia menawarkan agar aku ikut investasi seperti itu padanya. Tapi setiap kali dia mengajak, aku hanya bilang ”aku belum ada uang dingin.... uangku habis semua buat investasi toko” itu dan itu setiap kali dia mengajak, sampai akhirnya dia bosan sendiri. Sebenarnya bukan aku tak ingin punya penghasilan seperti itu. Hanya saja, rasanya buatku itu masih bertentangan dengan prinsip yang diajarkan orang tua semenjak kecil.

Lain lagi dengan teman-teman dikantor, karena melihat suksesnya Felix selama ini, banyak dari mereka yang ikut berinvestasi sama dia untuk bermain valas, coba saja anda bayangkan siapa yang tidak tergiur bila ditawarin kalau kita akan dapat 4 % setiap bulannya dari modal yang kita investasikan, artinya bila kita investasi uang 50 juta saja.... kita sudah mengantongi uang 2 juta setiap bulannya, tak perlu capek-capek mikir dan kerja, cukup oncang kaki saja sambil nunggun pembagian duit, bandingkan dengan deposito bank yang hanya 12 % pertahun, siapa yang tak tertarik...?, (belakangan di ketahui sebenarnya dapatnya 10 % tapi untuk jasa Felik yang 6 % nya setiap bulan) semakin besar uang yang mereka mainkan, semakin besar pula bunga yang dia dapatkan, yang berinvesatasi waktu itu cukup beragam dari yang mulai kelas yang ecek-ecek sekitar 10, 20 juta sampai yang berkisar 60-100 bahkan 500 juta.

Mungkin karena sudah merasakan nikmatnya bunga uang valas itulah, tak sedikit diantara mereka berinvestasi semakin besar dan semakin besar saja, tak peduli jual harta yang sudah ada, bahkan ketika kredit rame-rame dari kantor disetujui salah satu bank, banyak yang langsung mereka investasikan untuk bermain valas lewat felix, dengan harapan, tentunya akan semakin besar pula pendapatan yang akan diterima setiap bulannya.

Sebulan dua bulan bahkan sampai setahun, pembayaran keuntungan dari bermain valas itu lancar. Sampailah pada suatu saat, pembayaran mulai tak lancar dan seret sama sekali, bahkan modal yang selama ini ditanampun ikut amblas dan tak jelas pengembaliannya. Yang ku dengar sih bosnya Felik salah perhitungan, kalah atau apalah namanya, hingga harta yang ada sekalipun tak bisa lagi menutup uang yang mereka investasikan, dia sendiri langsung dijebloskan ke penjara dengan tuduhan yang berlipat, sementara temenku Felix tak jauh beda dengan bosnya, semua hartanya ludes disita untuk mencicil utang-utangnya, bahkan setiap minggu harus lapor ke kepolisian. Yang lebih panik lagi tentu saja mereka yang ikut invesatasi, dari yang hanya lapor ke kepolisian, atasan, sampai yang berniat menghabisi Felix dan bosnya, tujuannya agar uang mereka bisa kembali, tapi apa daya tetap saja duit mereka tak kembali.

Kalo inget semua ini mau ga mau aku jadi ingat lagi mendiang Bapakku, dulu dia selalu bilang gini, "cari uang yang banyak itu memang harus...! tapi yang lebih utama lagi, carilah yang maslahat agar menjadi berkah juga buat kita. Bila tak maslahat dan berkah, berapapun penghasilan kamu, itu hanya akan seperti angin yang lewat begitu saja, tak akan jadi apa apa, selain penyakit dan dosa yang berkelanjutan". Investasi bermain valas seperti itu sepertinya memang ada digaris abu-abu, kalau tak ku bilang itu hampir sama saja dengan judi yang sudah jelas dilarang agama yang kuanut, dan pada umumnya penjudi, tak ada penjudi yang bisa terus berjaya, Ok lah... hari ini dia bisa kaya, tapi apabila terus seperti itu, bukan tak mungkin kesialan akan menimpanya.


Tidak semata-mata agama melarang kalau tidak ada akibatnya, satu hal lagi, bijaksanakah kita memberi mamberi makan anak yang kita cintai dari yang tak jelas, bahkan menjurus haram...? karena yang kita tahu, bila kita memberi nafkah anak kita dengan rejeki yang tak halal, darah yang mengalirpun dipenuhi hal yang tak halal, sesuatu yang tak halal itu tidak membuat kita tenang, tapi bila kita dapatkan uang dari yang bener bener halal.... kitapun akan tenang dan Insya Alloh takkan dapatkan hal yang menyesakan dada dihari berikutnya.

TIPS BERSIHIN RADIATOR


Pernah ngalamin temperatur mobil ente ngaceng….? Maksud ane jarum temperaturnya melebihi setengahnya… jangan ngeres dulu… tentu saja… suatu saat pasti pernah ngalaminnya, karena kejadian gini gak hanya terjadi sama mobil tua aja… bahkan mobil barupun bisa ngalaminnya (kecuali VW kali ya…) penyebabnya tentu bisa banyak… diantaranya dari mulai memang mesinnya yang gampang panas, saluran air yang ga lancar, slang radiator ke mesin yang bocor sampe radiator yang sudah kotor dan perlu untuk di service…

Nah disini ane mau berbagi tips cara ngebersihin radiator yang kotor ya… lumayan lah.. itung-itung ngirit service radiator antara 50 ampe 75 ribu… Ini sebenarnya…. ane pelajari beberapa tahun lalu dari seorang sopir taksi yang udah berpuluh tahun jadi sopir, die bilang… selama ini die belon pernah yang namanya bersihin atau sevice radiator ke bengkel… kecuali kalo emang radiatornya bocor dan perlu ditambal… mudah-mudahan tips ini bisa bermanfaat dan mudah-mudahan pula ga nimbulin masalah baru…. Pada mesin mobil ente, tapi selama yang pernah ane praktekkin sih… gak nimbulin masalah… malah temperatur mesin selalu bagus… mesin yang biasanya dalam perjalanan jauh bisa ngaceng ampir setengahnya… sekarang paling seperempatnya… atau paling banter hanya sampe 35 persennya tapi entah dengan yang lain… semoga saja bisa sama.

kalo ente mau bersihin radiator seperti ini tentu yang pertama disiapin adalah slang air dan ketersediaan air yang harus lumayan cukup, kemudian satu bungkus sabun… bukan maksud berpromosi tapi jujur aja rinso anti noda yang lumayan ampuh.. satu bungkus sabun itu di bagi menjadi 3, maksunya untuk tiga kali pembersihan.
Pertama buka tutup radiator… trus masukan sabun yang prtama lalu kemudian… isi lagi air kaburator ampe penuh… lalu tutup radiator… dan nyalakan mesin mobil selama 5 menit…. Jangan lebih… setelah 5 menit… mesin mobil matiin kemudian buka tutup pembuangan air radiator berikut tutup radiatornya agar air mengalir keluar dengan lancar… saat buka tutup radiator pembuangan jangan lupa gunakan kain lap yang sudah di basahi air dingin biar ga kepanasan saat kena cipratan air radiator…. Ente-ente akan liat… banyak sekali kotoran yang sudah jadi karat yang keluar…. Ulangi semua itu sebanyak tiga kali atau ampe ga ade sama sekali kotoran yang keluar dari radiator…. Baru setelah itu…. Isi kembali radiator dengan air, kali ini… mesin tetep dinyalain… tutup pembuangan dibuka tapi air harus terus masuk ke radiator dari slang air… (pembilasan) ampe radiator bener-bener bersih dari air sabun…

selamat mencoba….



AIB SESAMA



Dikampung maupun dikota besar, sekarang ini sepertinya sudah menjadi hal yang biasa, sadar tak sadar orang telah terbiasa menggunjing keburukan atau membicarakan aib orang lain, mereka akan dengan sangat hapal keburukan seseorang karena sekarang ini justru menggunjingkan keburukan orang memang sudah difasilitasi dengan berbagai kemasan yang manis, sehingga orang tak sadar sedang apa sebenarnya yang mereka lakukan.

Aku tak iri atau apapun pada mereka yang suka acara seperti itu, karena bagaimanapun itu haknya mereka, mungkin itu salah satu cara untuk menghibur dirinya dari kesulitan hidup atau kesumpekan hidup, namun rasanya ada rasa yang mengganjal saja dihati, karena aku rasa dalam agama apapun pasti telah diajarkan, kita tak boleh mengunjingkan orang, kita tidak boleh menjelek-jelekan orang, kita juga tidak boleh mencemoohkan orang, itulah mungkin yang ditanamkan para pengajar agama kita, baik Islam, Kristen, Hindu, Budha, ataupun agama yang lainnya, yang namanya membuka aib sesama pasti itu tak dibenarkan.

Bagi seorang muslimpun demikian juga halnya, menggunjingkan orang atau membuka aib orang lain, itu sama sekali tak dibenarkan, bahkan dalam hadist riwayat muslim mengatakan “orang yang menutup iab orang lain didunia, niscaya Alloh menutup aibnya pula kelak di akhirat” paling tidak itulah yang pernah kudengar dari Ustad saat belajar mengaji dulu ketika masih kecil dikampung.

Saat ini… pagi sebelum memulai kerja, terutama ibu-ibu, biasanya sudah kumpul duduk manis didepan tv, ditemani teh manis dan cemilan, rasanya ada yang kurang bila sehari saja tak melihat dulu infotainment sebelum kerja, begitu juga ibu-ibu yang ada dirumah tak mau ketinggalan, bahkan sedang masakpun, tv tak pernah terlewatkan. Apalagi kalau bukan karena gosip, mereka justru nanti takut dibilang ketinggalan jaman, ketika si anu muncul di tv dengan segala cerita tetek bengeknya saat ngerumpi, padahal dari acara itu tak sedikit isinya hanya membuka aib orang lain.

Kadang aku selalu pengen tanya, apa sih manfaatnya nonton aib orang lain…? Jawaban dari orang-orang itu, kalau boleh aku simpulkan sih… ya… hanya seneng aja …hiburan aja, atau yang agak mendingan dikit, “kita sih pengen tau aja public figure itu kehidupannya seperti apa sih… masalahnya itu apa aja sih…?” padahal kadang orang yang menjadi bahan liputan itu sendiri tak menerima, kerena merasa itu bukanlah untuk konsumsi public, jadi tak habis pikir kenapa nonton aib orang lain dijadikan hobby bahkan kesenangan…? apakah sudah tak ada lagi cara mencari kesenangan…dengan cara lain yang lebih sedikit dosanya, nonton acara musik barangkali, nonton film atau acara hiburan lainnya, kupikir itukan lebih baik daripada mendengar keberukan orang lain, apalagi bila dihatinya timbul ingin mencontoh orang yang ada di tv itu, duh…! duh…!

Lalu apakah mereka tak mengerti agama…?, belum tentu juga..! bahkan ada yang selalu tak pernah ketinggalan ke pergi kemajlis taklim untuk mendengarkan ceramah agama, atau hari minggu pergi mengikuti kebaktian di Gereja, jaman memang sudah semakin gila kali yah…

VIRGINITAS

Sudah menjadi kebiasaan atau memang mungkin karena aku tak punya kegiatan lain sebelum kerja, tapi yang pasti satu jam sebelum batas akhir jam masuk… aku biasanya sudah ada di kantor, sehabis absen langsung masuk keruangan menyimpan tas, pasang telpon dan nyalain computer, tapi… ya cuma itu… beres itu aku ga langsung kerja tapi keluar lagi menuju Posko Satpam, ikut nimbrung sama Bapak2 satpam itu sambil ngopi dan ngobrol, topik yang dibicarakan tentunya bermacam-macam kalau bahasa kerennya sih mulai dari topik politik, ekonomi sosial sampai budaya, hanya saja bahasa dan versi posko satpam yang tentunya beda sekali dengan bahasa yang biasa digunakan para pakar dalam seminar atau bincang-bincang seperti di tv, ditempat ini obrolanpun lebih sering tak terarah dan kadang melebar kemana-mana, bahkan terkadang diselingi dengan canda bahkan saling cela.

Seperti biasa… pagi inipun aku menuju posko satpam untuk ngobrol sambil ngopi, belum juga sampai tempat duduk… Bang Sidup… begitu aku manggilnya sama orang Betawi ini sudah nyeletuk “ Dra… bukannye ente tuh laki…? Aku senyum sambil ku awab sekenanya aja… trus kalo laki-laki mang kenapa... kalau perempuan juga kenapa…? dengan tangannya yang sambil terus gosok gesper satpam sama braso biar mengkilat dia nyeletuk lagi… “oh.. laki toh… kirain ane.. ente jande…!,” aku jadi semakin ga ngerti kemana arah pembicaraan itu… maka aku jawab lagi sekenanya… janda bukanya yang abang cari selama ini…? kemudian aku susul dengan pertanyaan. “kenapa emang Bang…?” Sambil terus asyik menggosok dia nyeletuk lagi… “la… ya engga… ntu baju yang ente pake… kan itu warnanye jande….!” Halah……! baru aku ngeh… kalo itu tentang seragam baruku yang memang celana hitam dan kemeja ungu muda… aku sendiri ga tau entah dari mana asalnya kalo warna ungu itu warna janda… tapi segera saja aku ceramahin… “Bang aku ini kan hanya hanya bawahan… jadi kalo pimpinan pengennya gitu…? ya nurut aja… namanya juga bawahan… doain aja… supaya nanti aku jadi bos… biar pemilihan warna seragam yang serasi itu aku serahkan saja ke yang lebih mengerti… bila perlu designer yang kondang sekalian deh…! kalau sekarang sih… nikmatin saja yang ada… masih mending kita di kasih beberapa setel pakain…. Coba kalo tidak…? Paling tidak kan kita harus nyisihin duit buat beli baju tiap bulan… tul ga…? kalau memang kita hari ini seperti janda… ya sudahlah terima saja… lagi pula dijaman sekarang ini… kita sudah susah juga kita membedakan yang mana janda dan yang mana perawan… begitu celotehku…

Bener saja… setelah kupancing untuk melebarkan pembahasan… suasana semakin hangat… Mas Warso yang tadinya hanya diam sambil nyemir sepatu… ikutan angkat bicara… “bener juga yah… di jaman sekarang ini virginitas itu sudah tak ada artinya… jangankan yang sudah dewasa… yang masih bau kencur seusia SMPpun kita sudah sangsi dia masih virgin atau tidak… apalagi yang sudah lebih dewasa…” begitulah Mas Warso memulai bahas pancinganku, “Makanya jaman sekarang ini…! kalau mau nyari bini…. Ga gampang dan harus lebih teliti…. Bila perlu kita test dulu dia… masih perawan atau tidak…?” begitulah celoteh Yusuf yang dari tadi cuma cengar-cengir aja. Tapi Bang Sidup ga mau kalah… mungkin dia teringat adiknya Yusuf yang cantik di Cimanggis “Suf…. Kalo adik lo gue test dulu boleh ga…? “ kontan saja pertanyaan itu bikin Yusuf bersungut… dan setengah kesal sambil mengepalkan tangan dia bilang “ enak aja…!”. Tapi kekesalan Yusuf langsung ada yang nimpalin, “Tuuuhhh… kan… lo mau enak sendiri aja sih… giliran anak orang…. lo seenaknya aja minta test… giliran adik sendiri lo pelit… dasar playboy cap kapak…!” teriak Irfan yang lagi ngelapin motor kesayangannya di halaman posko, tapi Yusuf ga mau kalah set dia langsung lagi menyerang Irfan dengan pertanyaan, “ Fan…. Sekarang gw mo Tanya sama lo… kalo suatu saat lo nikah… trus dapetin cewek yang dah ga virgin lagi… lo… mau gimana ... lo harus jawab yang jujur…?” tapi bukan Irfan sableng namanya kalo ga bisa jawab asal mangap, “gue sih gampang aja Suf…! begitu gue tau bini gue ternyata dah ga virgin…! gue tahan dulu… yah… minimal dua atau tiga minggu gitu deh…! Gimanapun…. gue ga mau rugi apalagi dengan biaya nikah sekarang ini yang mahal…” sehabis itu…? sambar Mas Warso…. Ya… udah… gue cerein lagi aja… trus gue cari lagi yang masih perawan… apa susahnya…..! kalo ternyata yang kedua juga ga perawan lagi… ya gue samain dengan yang pertama …gitu aja terus…!, “dasar manusia sakit…!” gumamanku sambil ketawa… tapi kemudian pertanyaan itu aku lemparkan ke Mas Warso dan jawaban dia hamper mirip dengan Yusuf… bahkan dia pake semboyan… “coba dulu… baru beli…! ya… ga…?” kalo ente gimana Dra….? Tanya Bang Sidup pengen tau pendapatku, aku tak langsung menjawab tapi minum kopi dulu sambil trus menyalakan sebatang rokok setelah itu baru aku bicara, “MAN…! kalo kamu mencintai pacar kamu… berarti kamu harus menerima segala konsekwensinya… ya... termasuk ketidakperawanan dia, dan jangan sampai dikemudian hari ketidakperawanan itu menjadi alasan kamu menyiakannya, dijaman sekarang ini rasanya ga adil kalo kita menghakimi wanita hanya dari segi itu…. Buatku kalau dia cinta aku dan aku juga sebaliknya kenapa hal seperti itu harus dijadikan permasalahan…. Masa hanya gara-gara sudah tidak virgin atau selaput daranya yang robek kita harus meninggalkannya….? Padahal robeknya itu belum tentu karena telah melakukan seperti itu atau katakanlah ketidak perawanannya itu bukan kehendak dia apakah itu adil…? dan satu hal lagi yang harus diingat… setelah bersama lebih banyak lagi permasalahan besar yang harus ditanggulangi bersama dengan pasangan kita, lalu apa karena masih virgin bakal jadi jaminan setelah berumah tangga…? Jawabannya tentu tidak… Virgin… buatku itu hanya bonus tapi tak berpengaruh apa-apa…”.

Jelas saja mendengar jawabanku hampir semua berkomentar ada yang setuju ada yang tidak… bahkan ada juga yang menghubungkan dengan norma agama dan susila… sampai ada juga yang menuduhku minor dan menganggap terlalu modern dsb… anyway… itu haknya mereka… begitu juga dengan cara pandangku yang juga punya hak yang sama dengan mereka dan yang pasti… aku hanya melihat realita yang ada dijaman sekarang ini dan coba pahami apa yang terjadi, terlepas dari itu salah siapa… tapi bukan juga artinya aku manusia yang senang menabrak norma susila apalagi agama ampuni aku Tuhan…

NIAT BAIK SAJA TIDAK CUKUP

Tetangga sebelah rumahku punya anak gadis yang sedang mekar-mekarnya, dia sangat cantik, dengan kulit yang putih dan hidung yang mancung aku yakin bukan hanya aku yang setuju dengan hal ini bahkan mungkin setiap orang yang melihatnya akan mengakui kecantikan gadis itu, dia anak tunggal yang tentu saja menjadi harapan besar satu-satunya bagi keluarga itu, aku cukup dekat dengan keluarga itu terutama papanya karena meski umur beda jauh tapi dalam masalah hoby lebih banyak kesamaannya, dari mulai ngutak-ngatik mobil, nonton off road, hunting foto sampe ke musik, papanya juga termasuk tetangga yang enak diajak ngobrol topik apapun yang dibicarakan selalu nyambung, dan yang pasti dialah yang selalu mengajariku bagaimana mumulai bisnis dari bawah.

Dari segi materi anaknya itu sangatlah diperhatikan, apapun yang diminta pasti akan dikabulkan, apalagi bila ingat papanya selalu bilang.. . “kita cari duit ini buat siapa sih…? kalo bukan buat anak…?” hmmm… punya orang tua seperti ini tentu saja sangat menyenangkan bagi anak apalagi bila itu anak tunggal karena segala fasilitas yang diberikan mutlak jatuh ketangannya tanpa harus berebut kakak atau adik, padahal pemberian materi secara berlebih dan tanpa kontrol yang ketat terhadap anak tentu saja dapat menimbulkan akibat, hal itu sudah pernah kuberikan masukan sama papanya ketika suatu hari aku jalan sama dia, tapi mungkin seiring dengan kesibukan menanggani bisnis-bisnisnya perhatian dan control terhadap anaknya itu semakin kendor.


Kedengaranya aku seperti orang yang sok tahu, sebenarnya sih tidak juga... aku bilang seperti itu pada papanya bukan tanpa sebab tapi karena akhir-akhir ini aku dan anaknya itu termasuk dekat, karena kedekatan itulah mau ga mau aku jadi tahu bagaimana sepak terjang anaknya itu diluar sana, meski memang masih dalam tarap bisa dimaklumi.tapi bagaimanapun bila dia terus seperti itu jelas… itu bisa menjurus merugikan dirinya, sebenarnya itulah yang tak ingin kulihat, jujur aku sayang sama dia seperti halnya sayangku pada adikku sendiri, aku selalu ingat papanya dulu ketika aku terpuruk dia dan keluarganyalah yang selalu membesarkan hati dan memberikan semangat, melihat anaknya seperti itu aku sedikit khawatir, berangkat dari situlah semenjak aku semakin dekat dengan anaknya itu aku selalu memberikan masukan yang baik agar dia tak begini dan tak begitu, tapi karena mungkin selama ini papanya ok ok aja… semua masukan yang ku berikan tak pernah ia hiraukan… dan satu yang tak kusuka darinya dia tahu kalau papanya percaya padaku justru itu yang selalu dia dijadikan tameng untuk menutupi semua sepak terjangnya diluar sana pada papanya.

Sekali dua kali bahkan lebih… aku masih bisa memaafkan dia, aku katakan asal dia mau berjanji untuk tak mengulanginya ya sudahlah… yang artinya itu sekaligus berarti aku bisa dijadikan tameng bagi dia untuk papanya, tapi untuk kesekian kalinya aku jadi tak tahan, sampai suatu saat sekitar jam ½ 3 pagi pintu rumahku diketuk dengan keras sampai aku kaget dibuatnya tapi aku sendiri memang sedang tak bisa tidur dan masih nonton tipi, setelah kubuka ternyata didepan pintu itu berdiri dia dengan wajah pucat pasi, setelah kupersilakan masuk dan menanyakan ada apa sambil sesunggukan dia minta tolong untuk mengurus semuanya.. aku hanya bilang sama dia “ya.. sudah… kamu tenangin diri dulu atau pulang dan tidur aja.. nanti biar aku yang ngurus semuanya..” aku hanya menganggap dia mungkin lagi sial, tapi pikiran itu tak lama karena sekilas kucium bau alchohol dari mulutnya aku langsung pandangi matanya.. itulah yang buat aku marah… jelas sudah dia buatku pasti pengaruh alchohol itulah yang menyebabkan kejadian itu.

Malam itu juga aku keluarin mobil dan berangkat ketempat yang dia maksud, cukup kaget juga ketika tahu angkot yang dia tabrak lumayan parah kaca belakang dan samping pecah serta bagian belakang yang masuk kedalam, aku tau itu pasti diseruduk dengan kecepatan yang lumayan makanya sampai separah itu, tapi ya sudah… itu memang sudah terjadi… demi menjaga emosi sopir itu dan tak jadi urusan polisi yang pasti bakal lebih panjang.. malam itu aku beresin semuanya bahkan sampai mobil angkot yang ditabrakpun pagi buta itu juga kutarik masuk bengkel papanya yang kebetulan pegawainya masih sodaraku dan tinggal disitu,

Sebetulnya aku ingin diam atau menutupi saja yang terjadi seperti biasanya, tapi untuk kali ini rasanya itu tak mungkin apalagi ada kerusakan seperti itu yang tentunya meski tak ada korban nyawa sekalipun tetap saja akan ada pertanyaan, aku jadi berpikir mungkin saatnya papanya harus tahu semuanya karena bagaimanapun hanya papanyalah yang bisa menghentikan semua itu.
Dengan hati-hati dan wanti-wanti untuk tak marah sama anaknya aku mulai menceritakan sedikit tentang bagaimana anaknya, tapi ternyata… selama ini, anak itu cukup manis didepan keluarganya sehingga apapun yang terjadi diluar sana tak pernah sampai ketelinga papanya… justru papanya malah mencurigaiku kalau aku punya maksud lain… dituduh balik seperti itu tentu itu sangat tak mengenakan, aku hanya mengelus dada… dan sekali lagi dengan berat hati akhirnya harus ceritakan semua yang kutahu tentang anaknya berikut bukti yang bisa dicek kebenarannya.

Ada rasa bersalah dan tak tega berbuat seperti itu bagaimanapun anaknya itu sering juga menolongku, dan sama sekali bukan karena benci juga bila semua yang kutahu itu kubuka, tapi kulakukan semua itu karena bener-bener sayang sama dia jangan sampai dia melangkah terlalu jauh dengan hal yang tak baik.
Aku tahu dan aku bisa mengerti bila dia sangat marah... karena merasa dunianya diusik aku juga bisa terima dengan lapang dada bila semua telp. sms, E-mail selalu dia kirim dengan nada kebencian yang sangat, karena bagaimanapun aku juga pernah muda dan bukan tidak mungkin akan berbuat seperti pula, tapi aku percaya suatu saat kelak dia akan berterima kasih dengan apa yang kulakukan sekarang… suatu saat kelak dia akan semakin menyadari kalau yang pernah dia lakukan akan merugikan diri sendiri dan masa depanya.

MAKELAR KAGETAN



Kamis malem itu dengan langkah gontai kumasuki rumah, bantingkan badan disofa berharap bisa tidur sebentar tapi ternyata kantuk itu tak kunjung juga datang… mungkin aku teralu capek… disofa itu malah pikiranku melayang kemana-mana… ini sudah yang kesekian kalinya dalam beberapa hari ini aku berkunjung ketempat orang, baik itu temen, sodara bahkan orang yang hanya kenal biasa aja dan untuk kesekian kalinya pula aku gagal… saat itu aku baru sampai dari Sukabumi, ya.. apalagi kalo bukan nawarin mobil ini.... tapi sayang... yang kudatangi itupun merasa ga cocok dengan harga yang kutawarkan... apa boleh buat... aku kembali pulang dengan tangan hampa, padahal perasaan sih…. semua jurus yang pernah kupelajari sudah kukeluarkan untuk menarik minat orang… keningku jadi berkerut dan sedikit migren…. mengingat modal bensin yang dikeluarkan sudah tidak bisa dibilang sedikit… tapi ditengah semua kerisauan itu, aku tetap saja masih punya harapan dan selalu ada kata penenang hati untuk semua itu… “Dra... Ok lah… ini mungkin bukan harimu....!, Dra.... perjuangan itu memang tidaklah mudah....! Dra....! semua itu kan harus ada pengorbanan....!” itu kata peneneng setiap aku merasa kalah.

Sekilas kutengok jam didinding aku jadi semakin tak bisa tidur manakala jam itu sudah menunjukan pukul 3 pagi... bagaimana aku bisa tidur... kalo tidur hanya boleh tidur satu jam dan jam 4 aku sudah harus bersiap-siap lagi berangkat kerja... kepalaku rasanya jadi semakin pening, sampai akhirnya aku nyerah juga... ya udah deh... malem ini aku ga usah tidur daripada besok harus kesiangan masuk kantor, mendingan bikin kopi, masak air buat mandi sambil nonton film dvd bajakan yang belum sempat kutonton, hmmmm.... ini artinya aku sudah kesekian harinya aku hanya bisa tidur dimesjid ketika jam istirahat dikantor, tapi itu masih untung daripada beberapa hari lalu... aku malah ga sempat lagi pulang ke rumah dan harus tidur ditempat parkir kantor....

Dalam perjalanan menuju kantor aku jadi teringat kembali ketika dua minggu yang lalu temenku datang dan minta tolong untuk menjualkan mobilnya, dia sangat berharap segera terjual karena uangnya akan dipakai hal lain yang lebih penting dan mendesak, hanya saja masalahnya dia juga dia ga mau rugi terlalu besar seperti halnya kalo dijual ke pedagang. sebenarnya sih... buatku itu agak berat juga... apalagi mengingat harga yang diinginkan hampir sama dengan harga pasaran di show room, tapi ya sudahlah... bagaimanapun dia adalah temen yang baik yang pernah pula menolongku saat kesusahan... dan ini juga merupakan kepercayaan orang yang tak boleh kuabaikan... berangkat dari situlah akupun menyanggupinya... setelah harga disepakati dan saling tukar kunci, hari itu juga ditengah kesibukan kerja mulailah kusempatkan diri untuk bergerilnya menawarkan... dari mulai yang bisa ku telpon pasti ku telpon yang hanya bisa ku sms ku kirim sms bahkan kirim E-mail ke semua temen dan sodara yang memungkinkan... tentu saja macem2 sih reaksinya.. dari yang hanya ngeledek aja dan bilang... ”oh... jadi tokonya sekarang dah bangkrut.... trus alih profesi jadi makelar....! jadi ceritanya kerja dah di pecat nih... gara-gara chatting terus....” kalo dah gitu aku hanya bisa mendengus.... sebal.... huh...! teganya.... teganya.... teganya.... teganya.... teganya...., pada diriku....

Apapun pendapat mereka sebenarnya aku ga begitu peduli.... karena yang penting misiku terlaksana dan gayungku bersambut, diantara ledekan dan dan cemoohan itu ada juga sih yang respek bahkan serius tanya lebih jauh... tapi sayang untuk kali ini yang seriusnya lumayan jauh jauh... dari mulai Cianjur, Sukabumi bahkan sampe yang di Bandung dan resikonya....? sudah pasti mereka ingin liat barangnya... tak ingin sekedar cerita atau liat foto lewat E-mail atau MMS huh...! kalo dah gitu.... singkong ragi tape deeh....!, nah.... Itu pula yang bikin sekarang-sekarang ini aku semakin malam aja nyampe rumah..... coba aja bayangkan... pulang kerja jam ½ 5 kadang aku harus tancap gas ke Bandung... hanya untuk memperlihatkan yang ingin kujual... dan nyampe rumah dah pasti sangat larut malam... meski Tol Cipularang sudah membantu sekalipun... tapi tetep aja Bandung-Jakarta trus ke Bogor lumayan cukup jauh booo....! untuk pulang pergi....! dan yang pasti badan serasa remuk.... terutama bila setelah perjuangan yang melelahkan itu hanya penolakan yang kuterima... ”halah....! kasian banget yak....!”

Rejeki, Jodoh dan kematian.... hanya Tuhanlah yang tau.... itulah kata yang tepat yang sering ku dengar dari orang–orang bijak, seperti halnya Minggu pagi itu, Minggu itu aku memang ga ada niat buat kemana-mana selain ingin istirahat aja dirumah lagi pula uang buat bensin juga sudah sangat mengkhawatirkan, apalagi mengingat kemarin setelah pulang kerja aku langsung cabut ke Bandung kelayapan disana hanya buat menghibur temen yang lagi krisis RT dan krisis kepercayaan, siang itu ketika kucuci karena kotor datanglah tetanggaku... sebenarnya ga terlalu ku perhatikan... bahkan mungkin sedikit kuacuhkan, ku terus saja sibuk lap sana... lap sini.... karena kupikir kalopun toh aku pasang jurus menawarkan sekalipun akan percuma aja... mengingat selama ini dia belum pernah kulihat beli mobil meski ku lihat dia mampu... bahkan ketika dia tanya harga mobil itu aku masih jawab sekenanya aja... bahkan sedikit kutinggikan dari harga yang biasa ku tawarkan ke orang-orang, karena kupikir toh.... kalopun kukasih harga yang sebenernya... dia juga paling cuma akan nanya doang seperti yang sudah2 dan pasti ga akan lebih dari itu... tapi rupanya aku salah besar tentang hal ini.... aku baru sadar sampai dia tanya tentang harga lebih jauh... dan kalo benar mau dijual dia sanggup memberikan tanda jadi saat itu juga..... bahkan ketika tanda jadi yang kuminta lebih dari seperti sama orang-orang karena kesangsianku dia malah menyanggupi tanda
setuju.... nah.... lo....! dalam hati aku hanya bisa membathin... Ya... Tuhan....! kalo tau akan seperti ini... kenapa aku harus buang-buang pulsa segitu banyaknya....? kenapa aku harus buang-buang bensin segitu banyaknya....? kenapa aku harus capek-capek melakukan perjalanan jauh....? padahal yang beli belum pernah kutelpon.... sms.... E-mail... apalagi yang namanya kudatangi.... padahal itu tetanggaku sendiri.... tapi yang pasti sih.... semua biaya yang pernah kukeluarkan terbayarkan juga bahkan masih ada sisanya.... Hmmmm kini aku semakin percaya bahwa yang namanya rejeki hanya Tuhanlah yang tau.... kita hanya bisa berusaha tapi Tuhanlah yang tentukan....





Dijual Charade CX Merah/ B/sangat mulus /body lurus/pajak bisa tidur
BR baru/R.Tape Nikmat/Ac Adem/Stir Rac/siap luar Jawa
BU hari ini yang punya sudah sangat bosan dan butuh mobil baru
Halah......!

GELAS GELAS PLASTIK BEKAS


Hari masih pagi dan sepi ketika itu. Seperti biasa bila tunggu temen dan sudah sampai disitu, aku langsung cari tempat duduk, pesen kopi dan keluarkan rokok., tuk ngusir kejenuhan. Sekilas kuperhatiin lingkungan, semuanya biasa-biasa aja seperti pagi-pagi sebelumnya, kios kios yang berjejer sepanjang stasiun UI itu masih banyak yang belum buka dan orang yang lalu-lalangpun masih sedikit, mungkin juga karena hari itu adalah hari sabtu, dimana banyak kantor yang libur, hingga terasa lebih sepi dari hari-hari sebelumnya. Sehabis ngopi dan masih tetep dengan rokok di tangan, aku jalan-jalan di sekitar itu, menikmati pagi sambil perhatiin lingkungan, tak lupa kukeluarkan camera jaga-jaga kalo ada moment yang bagus untuk difoto, Tapi sayang, saat itu rasanya tak ada moment yang bagus untuk diabadikan, selain orang gila dengan celana robek hampir separuhnya, yang bolak-balik dari ujung ke ujung stasiun, sambil bersenandung tak jelas judul lagunya apa.

Ketika langkah kakiku sampai juga diujung stasiun itu, ada yang menarik perhatianku ketika kulihat seorang ibu, duduk bersimpuh diujung peron, karung disampingnya penuh dengan gelas-gelas plastik bekas minuman, yang biasa dijual di kereta. Dia begitu tekun dan cekatan. Pertama dia keluarkan seluruh isi karung itu diatas peron, baru kemudian dia keluarkan silet untuk membuang satu demi satu tutup plastik gelas itu, kemudian gelas yang sudah dibuang tutupnya itu disusun bertumpuk, tujuannya supaya rapi dan tak memakan tempat dalam karung, sehingga karung itu bisa memuat gelas-gelas itu lebih banyak lagi. Dia begitu sama sekali tak takut tangannya kena gores silet yang tajam itu, asyik sendiri sehingga tak begitu perhatikan orang sekitar. Karena penasaran, akhirnya kudekati dan lama juga kuperhatiin Ibu itu, sampai akhirnya aku tak tahan juga untuk tak bertanya ini itu. Dimulai dengan menawarkan rokok, karena kulihat tadi si ibu itu merokok, akupun mulai bertanya dari mulai jam berapa dia mulai kerja, berapa lama ngumpulin gelas2 plastik itu hingga bisa dijual, berapa yang ia peroleh dalam sehari, sampai tentang keluarganya.

Aku hanya bisa terenyuh dengar semua penuturan si Ibu itu, bayangkan...! saat orang lain tidur lelap dibuai mimpi, dia sudah telusuri semua tempat yang memungkinkan ada gelas-gelas plastik itu dibuang orang dan berakhir larut malam, hujan dan panasnya terik matahari, bukan alasan untuk tak kerja, masuk pasar, stasiun, bahkan ikut dalam kereta. Dia sudah sama sekali tak memperdulikan lagi yang namanya keselamatan diri sendiri atau keselamatan kerja dan tetek bengek yang biasa diterapkan di perusahaan perusahaan, misalnya bila sedang memungut gelas-gelas itu di rel stasiun, lalu kereta datang, dia cukup masuk ke gorong-gorong bawah peron yang hanya beberapa cm dari kereta lewat, padahal bila sedikit saja badannya keluar, bukan tidak mungkin bukan hanya tangan atau kaki yang hilang, tapi juga mungkin nyawanyapun ikut melayang. Lalu berapa penghasilan mereka sampai sedemikian nekat seperti itu…? Coba aja hitung sendiri, bila dalam satu kilo plastik hanya dihargai sekitar Rp. 3000, dalam satu kilo itu sendiri… kalau gelas plastiknya sedikit tebal, itu sekitar 100 gelas, tapi kalau gelas plastik itu tipis, bisa mencapai 150 gelas… bisa anda bayangkan, berapa ribu gelas… yang harus dia kumpulkan hanya untuk mendapatkan Rp. 20. 000 / hari, padahal itu artinya berapa tempat yang harus disambangi dalam sehari…? Berapa bahaya yang harus dia tempuh demi untuk gelas-gelas itu..? itupun kalau dia beruntung bisa dapat segitu dalam sehari, terkadang hanya setengahnya saja, mungkin sudah untung.

Bagi sebagian orang, mungkin uang segitu untuk parkir saja kurang, apalagi makan di resto, itu jelas sangat jauh, sekali lagi aku hanya bisa terenyuh bila liat ironi seperti itu. Aku hanya bisa miris, bila melihat tayangan sinetron di tipi, yang hanya bergumul dengan harta dan harta dan segala macam kemewahannya, padahal kenyataan didepan mata, sangat banyak orang yang kehidupannya seperti itu.

Di Negeri tercinta yang konon katanya sangat kaya raya dengan hasil alamnya ini, entah berapa orang yang hidupnya seperti itu, tanpa kehidupan yang layak, pendidikan, apalagi masa depan. Belum lagi ditambah dengan berbagai bencana, yang tentunya menyumbang juga jumlah orang yang kesusahan. Andai saja ada suatu program pemerintah yang lebih jitu tepat sasaran, bisa menyentuh mereka lebih menyeluruh untuk meningkatkan tarap hidup mereka, pendidikan mereka, sampai masa depan mereka. Andai saja program yang ada sekarang ini tidak hanya jadi ajang korupsi subsidi orang-orang pintar untuk memperkaya diri sendiri, mungkin kita tak kan melihat lagi hal seperti itu.

Aku bersyukur selama ini aku diberikan kemudahan oleh Tuhan meski memang belum mencapai seperti yang diinginkan, tapi paling tidak... kehidupanku lebih baik dari mereka dalam mencari makan. Tapi hanya dalam mencari makan karena dalam hal lain itu, dalam hal kebahagian misalnya… siapa tahu mungkin mereka lebih bahagia dari kita, Wallohualam.

MESJID

Entah yang keberapa kali dalam bulan terkahir aku masuk dalam mesjid ini, hanya untuk melakukan sholat isya, kebetulan setiap sampai dimesjid ini selalu saja malam, biasanya sampai disitu sekitar jam 10 malam, tapi meski sudah beberapa kali aku datang ke tempat ini, aku selalu kagum dengan ornament yang ada di mesjid, yang konon katanya di bangun oleh mantan orang kedua di negeri ini, mesjid ini tergolong mesjid yang megah dan yang menjadi istimewa mesjid ini satu-satunya diantara hamparan teh yang hijau dan berudara dingin. Entah kenapa bila sudah masuk mesjid ini, rasanya ada ketenangan lebih yang kudapat, hingga baik dalam sholat maupun do’a yang kupanjatkan setelahnya, rasanya aku lebih khusu. Sehabis sholat dan berdoa biasanya aku keliling melihat ornamen ornamen itu, sementara dipojok ruangan selalu dan selalu setiap ke sini ada anak kecil yang sedang membaca ayat suci, tentu menambah ketenangan hatiku, aku hanya berpikir, andai dalam lingkungan pekerjaan atau rumah aku bisa mendapatkan ketenangan seperti ini, mungkin hidupku lebih terarah, mungkin apa yang kuinginkan bisa lekas tercapai, dan berbagai mungkin lainnya yang ada di kepala.

Sambil rebahan dan melihat atap dalam mesjid itu, aku teringat lagi semua persoalan yang ada dalam kehidupanku. Satu persatu perjalan hidupku terutama yang terburuk lewat dalam pikiranku, membuat aku rasanya sumpek dan serasa terhimpit, dengan ketenangan yang kudapat dimesjid itu, seketika saja aku jadi teringat lagi akan ucapan Ibu dikampung, yang selalu mengatakan “masalah itu ada karena kita sendiri yang membuatnya… bila kita hidup lurus dan berada dijalan Ilahi, Insya Alloh, masalah tak akan hinggap didiri kita, kalaupun ada… pasti kita akan segera tahu jalan keluarnya, Allah tak akan memberikan ujian sama kita kalau kita tak kan mampu untuk menerimanya, segala masalah kita kembalikan lagi kepadaNya dengan beribadah dan menerima masalah atau persoalan itu dengan sabar dan tawakal. Begitulah ibuku selalu berbicara, tidak sama aku atau kakak2ku, bila menceritakan masalah padanya, dan biasanya, aku selalu tenang bila sudah mendengar perkataan seperti itu, aku teringat lagi temenku seorang sales yang handal, dia selalu mengatakan tak ada masalah yang tak bisa dipecahkan, tak ada persoalan yang tak bisa dinegosiasikan, hanya saja kita harus lebih tenang dalam menghadapinya, dalam hati aku berbisik, mungkin selama ini aku kurang tenang.

Hembusan udara dari luar semakin dingin, tak terasa aku rebahan di mesjid itu sudah satu jam lebih, aku keluar dan seperti biasa, setiap aku datang kesitu sehabis sholat, aku menuju tukang kopi untuk menghangatkan badan, tapi kali ini aku ingin berterima kasih pada anak itu, yang telah membaca ayat suci dan membuatku rasanya lebih tenang ketika melamun tadi, ketika melangkah keluar, kuajak serta anak itu untuk makan mie sekalian berikut adiknya.

Dari obrolan sambil makan mie itu, aku jadi tahu kalau anak-anak itu sebenarnya sama saja seperti anak jalanan yang lainnya, seperti halnya yang ada di Bogor, Jakarta, dalam KRL atau anak jalanan dikota-kota lainya, yang saat ini semakin banyak saja. Hanya saja berkat kebaikan pengurus mesjid, mereka boleh ada disitu dan diperbolehkan belajar mengaji pula, aku terenyuh mendengar semua penuturan jalan hidupnya. Dari mulai dipaksa mengemis oleh preman dijalan-jalan ibukota , sampai berkahir dimesjid itu. Bagaimana tidak terenyuh, bila diusia sebelia itu yang seharusnya menikmati masa bermain dan sekolah, sama sebayanya, dia dan adiknya malah harus mengais rejeki, hanya untuk sekedar makan. Padahal resiko yang harus ditempuh sangatlah besar, baik itu dari kendaraan yang ada dijalan raya, preman yang mengelolanya, maupun dari pengemis lain yang lebih besar dari mereka. Bahaya selalu mengintai mereka setiap saat, tapi masih beruntunglah dia dan adiknya bisa terdampar disini, minimal disini sedikit lebih aman, yang penting lagi, disinilah dia bertemu dengen orang yang baik hati, memberikan pengetahuan agama, meski kehidupannya sehari-hari disitupun, hampir sama saja dengan dulu, siang dia bisa jadi tukang semir sepatu bahkan menjualkan barang dagangan orang lain diareal parkir mesjid itu.

Bagi dia dan adiknya apapun pekerjaan itu, yang penting halal dan bisa untuk makan, meski terkadang mereka harus puasa juga karena memang keadaan, tapi masih untunglah dia sudah mengerti tentang puasa. Ketika aku bertanya tentang ibu dan bapaknya, dia tak bisa jawab lebih jauh, dia hanya bilang entah dimana dan mereka sendiri sudah melupakannya. Aku tak tahu entah apa yang ada dipikiran mereka, entah dendam dan memang mungkin sudah tak ingin lagi mengenal ibu bapaknya lagi atau mungkin juga memang sudah lupa sama sekali dengan kedua orang tuanya itu, tapi yang pasti mereka sepertinya enggan menceritakannya, hingga akhirnya aku suruh mereka masuk lagi mesjid dan bergabung lagi dengan temen-temennya.

Sampai dipenginapan itu jam 2 pagi, aku tak bisa langsung tidur, teringat lagi pada diriku, selama ini, aku merasa bukan orang yang beruntung dengan semua persoalan yang ada padaku. Selama ini rasanya Tuhan telah tak adil dengan memberikan semua persoalan hidup yang berat itu padaku, tapi bila melihat lagi mereka…mengingat lagi anak-anak itu…? Sepertinya aku dapat pelajaran yang lebih berharga dari apapun, ternyata dalam hidup kita ini, ada yang lebih tak beruntung dibanding semua persoalanku, sebetulnya aku jauh lebih beruntung dari mereka, kehidupanku laebih nyaman dari mereka, aku semakin sadar… selama ini aku mungkin kurang bersyukur dengan nikmat yang Tuhan berikan, selama ini… aku telah lupa bahwa ada orang-orang yang mungkin hidupnya lebih menderita dibanding persoalan dalam kehidupanku, tapi mereka lebih menganggap itu hal biasa dan tak menjadikannya sesuatu hal yang sangat besar dalam menjalani hidup ini. Mereka masih bisa tertawa lepas meski dalam hal lain tentu sangatlah mengkhawatirkan. Ampuni Aku Tuhan…

CERPEN DUA HATI

Ada rasa kehilangan manakala ingat tak ada gadis yang biasa memelukku dari belakang saat berangkat dan pulang kerja hari sabtu ini, hari ini rasanya lain dan tak seperti hari-hari sebelumnya, masih terngiang ditelingaku ketika jum’at malam saat mengantarkan dia pulang dia bilang “sabtu ini aku ga lembur… mau tidur aja seharian dirumah, begitu juga dengan hari minggu… minggu ini aku lagi males hunting foto lagian akhir-akhir ini aku selalu ngantuk dikantor” saat dia bilang seperti itu dalam pikiranku ada semacam firasat “mungkin cowoknya yang dari luar kota datang…” meski memang bukan tak mungkin semua itu karena bola… karena meski cewek, dia termasuk yang hobby juga nonton bola bahkan mungkin sampai malampun dia jabanin, tapi saat sore kuhubungi ponselnya dia tak menjawab dan smsku tak dibalas… aku yakin dengan firasatku yang pertama, tapi ya sudahlah… karena memang seperti itu keadaannya.

Sore itu sepulang lembur kerja, kupacu motor hingga 80-90 km/jam lewati kendaraan lain yang melaju dibawah kecepatan itu, tentu saja motor serasa melayang dan mesin bergetar karena memang bukan motor yang didesign untuk lari, tapi saat itu ku tak peduli dalam anganku cuma ada satu, aku ingin cepat sampai rumah… mandi, makan, istirahat bentar lalu pergi lagi kesuatu daerah tempat favoriteku akhir-akhir ini untuk menyepi, bahkan buku perang dunia dua nya Pk Ojong pinjaman dari temen seniorku dikantor sudah ku kantongi untuk temani istirahatku nanti, agar seninnya aku bisa debat kusir dengannya tentang hitler.

Ketika masuki halaman rumah sejenak kutertegun melihat mobil yang sudah tak asing lagi buatku parkir disitu, anganku istirahat panjang ditempat nyaman sepanjang jalan tadi jadi buyar seketika, ingin rasanya putar balik dan tancap gas kembali tapi pemilik mobil itu sudah terlanjur melihatku karena memang sedang ada didepan ngobrol dengan adikku, aku jadi tak enak hati bila terlihat sekali kalau aku menghindar seperti itu dan rasanya tak dewasa juga bila aku berbuat seperti itu, mungkin sudah saatnya juga aku menghadapi hal seperti ini, hanya saja timbul pertanyaan dihati “kenapa jam segini dia masih disini.. padahal seharusnya dia sudah pulang…“ motor kumatikan dan kudorong masuk rumah, tapi belum sampai masuk pintu, adikku sudah menjegalnya didepan pintu seraya berujar “pinjam motornya mau ke rumah temen bentar…!” tanpa banyak kata kuserahkan motor itu dan adikku langsung kabur dari hadapan, kini tinggalah aku berdua dengannya. “jam segini baru pulang Min…? memang hari sabtu ga bisa setengah hari ya lemburnya….? sekarang tiap sabtu kamu lembur terus yah…? Begitulah cercanya selalu beruntun, sekilas ku lirik pemilik suara itu, gaun malam hitam yang sexy sangat terlihat kontras dengan kulit yang putih mulus, tapi segera saja ku jawab “Yup… yah… biasalah…. namanya juga kuli… memang aku punya pilihan…? nikmatin aja yang bisa dinikmatin ” begitulah ujarku, tapi dia langsung menimpali “ kalo lembur terus… makin banyak duit dong…!” selorohnya tapi kujawab aja sekenanya… “ya. Banyaklah… di bank… tapi bukan milikku” jawabku sambil ketawa, selang dari itu diapun melanjutkan bicara “ ya… sudah… mandi dulu aja sana… aku mau minta tolong nanti sama kamu…! ok Boss…! jawabku sekenanya, padahal dalam hati aku bertanya kali ini mau minta tolong apalagi…? Tapi karena badanku memang sudah gak nyaman dan ingin segera kena air dingin biar lebih segar setelah seharian lembur aku tak sempat mkir lebih lama lagi, aku langsung saja menuju kamar mandi.

Sehabis mandi dan ganti baju aku kembali temui tamuku “yap… ada apa Boss… ada yang perlu saya bantu….?” Kataku setelah duduk berhadapan dan nyalain rokok, “kamu jangan gitu deh… biasa aja lagii… jangan pake bas… bos… segala…deh…!” protesnya, rupanya dia ga nyaman juga kupanggil seperti itu “Min… bisa tolong aku ga..kali ini… ? antar aku ke Sukasari malam ini ya.. aku ga enak pergi sendiri malam2 takut ada apa-apa di jalan” aku tak segera mengiyakan tapi sekilas kuperhatikan dia lebih detail, aku Cuma menghela nafas panjang dan membatin kalau akhir-akhir ini dia selalu bergaun sexy dan memang harus kuakui dia bukan saja cantik menurut ukuranku tapi juga anggun dengan gaun-gaun itu. Tapi yang keluar dari ucapanku tentu tak sama dengan pikiranku, aku hanya bilang “ kamu kan tau… Sim A ku dah lama mati… dan tak pernah kuperpanjang lagi” tapi dengan cepatnya dia mematahkan ucapanku itu “aku hanya minta anter dan bukan menjadikanmu sopir….!” Sekali lagi kupandangi dia sekilas tapi aku tak berani menatap matanya yang sedang menghujam kearahku, sampai akhirnya aku bilang ”Ok lah… kalo gitu sih…!” meski sebenarnya bertanya dihati mau ngajak kemana dia… tujuannya apa…? Dan satu lagi aku teringat isi dompet yang isinya tinggal buat bensin seminggu makan dan rokok tak lebih dari itu… dan tak ada budget pula tuk jalan-jalan selain buat penginapan murah di tempat paforitku yang tadi kuangankan dijalan itu..

Sepanjang perjalanan dia terus saja bicara tentang banyak hal, dari mulai tentang dikantornya dan kehidupan dia akhir2 ini, dan seperti biasa aku selalu mengiyakan saja apa katanya, meski terkadang aku tak mengerti apa yang dia bicarakan karena memang aku tak terlalu menyimak, dalam perjalanan seperti itu aku lebih suka denger musik dari radio daripada topik yang dibicarakan, tapi dari kaca sempat kucuri pandang, dan jujur aja dengan gaun sexy seperti itu kadang suka ada juga pikiran ga beres di otakku apalagi kalau diingat akhir-akhir ini selalu dan selalu saja dia memancing-mancing kearah itu, aku bukan tak mengerti hal itu, denger musik dan bermain dengan pikiranku sendiri akhirnya sampailah pada tempat yang dituju, ternyata hanya sebuah apotek, setelah tebus obat untuk papanya langsung balik lagi ke mobil, tapi sebelum menstater mobilnya kembali dia kembali berbicara, “ Min.. sebelum kita pulang kita makan dulu yuk…? Aku laper banget nih… dari sore tadi belum makan.. aku juga kangen makan malam sama kamu….” aku tak langsung manjawab tapi teringat lagi isi dompet… aku memang lagi bokek… tapi sekali lagi karena ga enak hati… apalagi selama ini setiap dia datang ke kantor selalu bawa makanan buat temen2ku rasanya gengsi juga, aku ga pengen dia selalu liat kelemahanku, akhirnya ku iyakan juga meski sebenarnya aku was-was juga jangan-jangan dia ngajak makan ditempat yang mahal karena aku tahu persis selera dia seperti apa, aku ga kaget ketika mobil memasuki tempat makan yang biasa dulu sering kita singgahi bahkan tempat itu pula yang dulu dijadikan tempat saling ucapkan janji, aku tau apa yang dia inginkan, semua itu dia lakukan hanya untuk memutar kembali semua kenangan kenangan yang pernah ada, aku hanya mengekor aja dari belakang bahkan saat dia menuju tempat duduk di pojok ruangan yang biasa dulu kita gunakan, ngobrol kesana kemari sambil makan tapi ditengah obrolan itu kuingatkan sama dia kalau aku ga bisa lama-lama karena besok masih ada urusan dan besok subuh aku sudah harus brangkat lagi, padahal yang sebenarnya bukan itu yang aku maksud.. aku hanya takut kalau aku jadi lupa diri dengan semua itu dan lupa dia sekarang siapa dan aku siapa.

Dalam setiap pembicaraan sekarang-sekarang ini dia memang sudah tak pernah lagi menyinggung tentang hubungan masa lalu kita, tapi dari bahasa tubuh… tatapan mata… bahkan genggaman tangan aku bukan orang yang tak peka hal itu bahkan aku sangat mengerti itu, aku jadi merasa tersiksa sendiri sampai akirnya kuajak pulang karena memang sudah malam, dalam perjalanan pulang tak banyak yang dibicarakan seperti saat berangkat tadi, dia sibuk dengan pikirannya begitu juga denganku ditengah kebekuan itu kuputar casette casopea lama sedikit lebih keras tuk mengusir kejenuhan, sampai depan rumah berbasa-basi kuajak dia mampir dulu tapi ternyata dia malah menyambutnya dengan ikut turun dan masuk rumah… sejenak aku heran karena dengan pulang selarut itu berarti dia sekarang ini semakin berani menentang keluarganya…padahal semenjak tadi entah berapa kali hpnya bunyi dan sempet kubaca itu dari papanya.

Duduk di sofa dan nyalain tv aku masih dalam diam yang tentu saja dengan berbagai macam pikiran, kucoba alihkan semua pikiran itu dan ikuti acara tv, tapi belum juga kusimak acara tv itu tiba-tiba saja dia bilang “aku kangen tidur dipangkuanmu” sambil meletakan kepalanya dipangkuanku, wangi parfum yang menyeruak dari tubuhnya dan gaun malam yang seperti itu, ditambah lagi dengan sikap dia yang lain akhir2 ini, tentu saja bikin aku berdebar bagaimanapun dia adalah orang yang pernah ada dihati dan aku laki-laki normal yang juga punya keinginan sama dengan seperti halnya orang lain, apalagi saat aku tau dia terus saja pandangi aku dari bawah, membuat aku serba salah, dalam kebimbangan dan rasa sepi yang menyelimuti selama ini, manusiawi rasanya bila timbul pemikiran untuk menikmati saja yang keadaan seperti itu, apalagi saat dia bangun dan berbisik ditelinga “aku tahu kamu kesepian…” diikuti kecupan lembut dibibir, tak sampai ikut larut aku segera tersadar saat terdengat suara gaduh motor memasuki halaman rumah, aku segera bangkit dari sofa… lama termenung saling diam… pikiranku sendiri melayang ke gadis yang biasa peluk aku dari belakang saat berangkat dan pulang kerja gadis yang bukan saja cantik dan manis tapi gadis yang selalu tampil serasi, bila hari ini bajunya pink… maka kerudung dan sepatunyapun pasti warna yang sama bukan hanya itu yang aku suka darinya, tapi pembawaaannya yang tenang… sederhana dan apa adanya baik ucapan maupun tindakannya dan yang pasti tak pernah mengeluh meski kuajak makan ditenda pinggir jalan sekalipun, rasanya ada yang menenangkan hati bila sudah memandangnya, meski aku sendiri tak tahu dengan pasti mau dibwa kemana arahnya hubungan yang sudah berjalan satu tahun itu.

Aku terhenyak dari lamunan mana kala dia bilang bilang “Min….. sudah malam aku mau pulang dulu… oh..ya.. besok aku sama temen2 mau ke Anyer… kalau kamu mau ikut besok aku bisa jemput kamu kesini…!” kupandangi dia sekali lagi tapi kali ini dengan tatapan kosong… tapi aku bilang “ makasih.. banget ajakannya… tapi besok aku memang banyak urusan yang harus kuselesaikan… aku oleh-olehnya aja deh” kalakarku, akupun ikutin dia keluar sampai masuk mobil dan hilang dikegelapan malam.

SI GUNDOL

Dengan sedikit masih ada rasa ngantuk sehabis nongkrong dan begadang semalam, aku bangun juga saat melihat jam sudah menunjukan jam 12 siang, segera aku berkemas dan siap meninggalkan penginapan itu, tapi dalam perjalanan menuju rumah, rupanya perut sudah minta diisi, tadi aku tak sempat makan roti dan minum kopi yang disediakan penginapan karena terburu-buru, ketika lihat rumah makan cepat saji dipinggir jalan aku berenti dan masuk, aku tak begitu memperhatikan keadaan sekeliling apalagi orang-orang yang ada disitu, karena yang kuperhatikan adalah perut yang sudah keroncongan.

Saat makan aku bingung, rasanya ada suara perempuan yang memanggil nama julukanku waktu kecil, saat aku menoleh ke meja sebelah ternyata disitu ada wanita yang sangat cantik sedang tersenyum tapi aku malah bingung karena tak kenal sama sekali.. tapi ketika mataku kualihkan ke lelaki disebelahnya… meski sudah berubah, tapi masih kukenal orang itu, ya.. tak lain si Gundol temenku waktu SMP, sebenarnya namanya cukup bagus yaitu Nanang Wicaksana, tapi karena wajahnya yang sangar bibir yang agak landung dan kepala yang besar dan menonjol kebelakang mungkin itulah kenapa dia dipanggil si Gundol, aku sendiri tak ingat lagi siapa yang pertama memberi julukan itu padanya, tapi yang pasti dia itu anak yang sangat terkenal disekolahku, hanya sayang terkenalnya bukan dalam hal kebaikannya, dia terkenal dengan bengalnya, nakalnya dan masih banyak lagi julukan buruk yang ada padanya, itulah yang pertama kali kuingat saat melihat dia.

Dua temen yang tak pernah ketemu tentu seru dari, kami ngobrol mulai tentang masa lalu, saat ini, sampai dengan tukar cerita tentang apa yang telah kita capai masing-masing, dan asal tau saja perempuan cantik yang mirip Sophia latcuba disebelahnya itu ternyata istri yang sudah dua tahun ini dia nikahi dan sudah pula memberikan dia satu keturunan, aku kagum juga cita-cita dia waktu masih SMP dulu, kalau dia ingin punya istri yang cantik ternyata tercapai juga, kalau dilihat tentu saja sangat kontras perbedaannya, kalau temen sekantorku istilahkan sih “bagaikan puteri Cinderella dengan tukang kebunnya” .

Aku kagum mendengar perjalanan hidupnya dan apa yang telah dicapai dia saat ini, mengingat SMP pun dia tak tamat, dibalik semua kekurangannya ternyata dia adalah orang yang sangat gigih dan ulet untuk merubah nasib, dia cerita waktu kelas tiga itu kenapa harus keluar sekolah, itu karena ibunya sudah tak dapat lagi membiayai dia sekolah. Dengan berat hati dia harus meninggalkan bangku sekolah dan teman-teman yang dia cintai, dia pergi ke lain kota untuk mencoba mengadu nasib, pertamanya dia bekerja disebuah bengkel mulai dari hanya tukang bersih-bersih, sampai kemudian diangkat menjadi mekanik di bengkel itu, setelah ia semakin mahir dan bisa ngumpulin sedikit-demi sedikit modal dan ada satu orang pelanggannya yang percaya serta mau untuk menanamkan modalnya dibengkelnya, dia akhirnya buka sendiri bengkel, dan memang benar karena keuletannya dan komitmennya menjaga kepercayaan pelanggan, yang tadinya tempat usaha saja hanya mampu ngontrak itu, akhirnya sampai kebeli juga, kian hari usahanya semakin pesat, hingga akhirnya dia punya bengkel cukup besar dengan anak buah yang juga lumayan banyak. Sampai cerita itu, aku jadi tak heran lagi kenapa dia bisa punya istri yang begitu cantik, apalagi saat pulang aku lihat, ternyata SUV terbilang mewah dan baru yang diparkir itu ternyata miliknya, waktu itu kebetulan dia ada didaerah itu dalam rangka pembukaan cabangnya yang kedua, diajaknya aku berkeliling dan dikenalkannya pada anak buahnya yang lumayan cukup banyak juga di cabangnya itu.

Melihat dia lagi, aku jadi teringat masa SMP dulu, yang banyak sekali kenangan bersamanya. Aku sebenarnya bukanlah tipe orang yang suka berkelahi apalagi menjadikannya hobby, aku orang yang lebih sering mengalah dalam segala hal, dan yang namanya berkelahi itu sangatlah aku hindari apalagi bila mengingat badanku yang kecil. Untuk itu tak heran, saat anak-anak lain mengambil extra kulikuler taekwondo, Karate, silat atau bola aku malah ambil vocal group, paduan suara atau belajar latihan musik itulah gambaranku waktu itu.

Ketika kelas satu si Gundol sudah kelas dua tapi karena tak naik kelas akhirnya aku jadi satu angkatan sama dia, pertamanya aku tak akrab dengan dia bahkan aku benci sama dia karena dia dan ganknya selalu saja memerasku/memalakku bahkan mengintimidasiku apalagi kalau hari sabtu, karena itu jadwalnya anak-anak itu belajar minum-minuman keras, mereka selalu malak sana-sini untuk tambahan beli minuman itu, si Gundol itu memang tak pernah turun tangan tapi cukup tunjuk temennya atau anak buahnya maka anak buahnya itulah yang selalu datang padaku atau temenku meminta jatah, pernah sekali waktu aku coba ga ngasih, saat itu juga aku langsung kena tamparan dan malah uang yang ada padaku semuanya mereka ambil, sampai uang untuk ongkospun aku tak punya, dan terpaksa harus pulang dengan jalan kaki.

Pada suatu saat karena sudah sangat jengkelnya aku nekad melawan, saat itu hari sabtu sehabis pelajaran olah raga dia dan ganknya datang, seperti biasa minta jatah, tapi karena duitku hanya tinggal untuk makan dan ongkos pulang, anak buah si Gundol itu tak aku kasih, ketika dia malah mau angkat kerah baju ingin memukul, aku duluin dengan memukul dia pas pelipis matanya sekencang-kencangnya, dia limbung dan terjatuh tersungkur ke lantai, ga cukup sampai disitu aku lari keluar kelas dan rebut stick soft ball yang lagi dipegang temenku, balik lagi masuk kelas terus aku pukulkan ke anak yang masih duduk dengan limbung itu berkali-kali hingga terkapar dengan darah yang mengalir dari pelipis mata, sampai akhirnya temenku sendiri yang teriak dan memegangiku karena takut keadaan semakin parah.

Si Gundol dan temennya hanya bengong bercampur ngeri ketika aku datengin dan aku pandangin satu-satu, tak ada satupun dari mereka yang berani maju ketika malah kutantang siap menghajarnya juga dengan stick itu. Mungkin mereka bingung bercampur ngeri melihat aku yang biasanya klamar-klemer paling gampang di palak bisa senekad dan sebrutal itu dan itu sama sekali diluar perkiraan mereka, Alhasil aku tetap kena skor 4 hari tapi anak yang kupukuli itu lebih parah lagi, pipinya lebam dan peipisnya diperban karena sobek sarta satu tangannya harus di gip lebih dari satu bulan karena patah tulang akibat menahan pukulan stick soft ballku. Ada yang lucu ketika orang tua anak itu tak terima dan datang kesekolah serta mengancam akan melaporkanku ke polisi, tapi setelah tau duduk persoalannya dari guru dan temenku konon katanya malah anaknya sendiri yang di tambahin tamparan dirumah sama orang tuanya. Semenjak itu tak ada lagi yang berani memalak atau mengintimidasi baik itu si Gundol maupun kaki tangannya, begitu juga dengan temen2 dekatku mereka ikut aman dari gangguannya dan bahkan cerita minum-minuman keras di hari sabtupun sudah sudah tak terdengar lagi.

Entah respek karena berani melawan atau apa, tapi semenjak itu si Gundol yang dulunya selalu melihatku hanya sasaran empuk untuk diperas malah jadi akrab denganku, meski sudah tak coba-coba lagi dengan minum-minuman keras tapi Bengal sama nakalnya tak pernah berkurang, selalu ada saja ulahnya yang bikin orang lain jengkel, mangkel, bahkan mungkin membencinya, pernah aku dan temen disidang guru BP gara-gara ngikutin kemauan dia ngintip siswi-siswi yang sedang mandi sewaktu kemah pramuka, bahkan pernah juga ketika aku dan temen-temen main ke kampungnya dan dengan meyakinkan menyuruh temenku yang bisa manjat pohon kelapa untuk mengembil kelapa mudanya, baru saja dua buah yang diturunin… si gundol teiak2 menyuruh teemenku turun karena yang punya pohon kelapa itu datang mengacung-ngacungkan golok sambil teriak-teriak, kontan saja temenku yang panik diatas pohon melorotin diri ke bawah sampai badannya penuh luka goresan dan kakinya keseleo tak bisa jalan hingga harus dia bopong sambil lari.

Kalau aku tak mengenal lebih dekat, mungkin akupun tetap saja akan melihat dia orang yang sangat brengsek, padahal dibalik semua kenakalan dan kebengalannya itu sebetulnya dia orang yang baik, ini terlihat dari begitu hormat dan berbaktinya dia sama orang tua tunggalnya itu, jam 3 pagi saat aku dan temen lain masih lelap tidur, dia sudah membawa pikulan nasi uduk kepasar dan menemani ibunya jualan sampai pagi menjelang sekolah, aku jadi paham kenapa dia bisa sampai ketinggalan pelajaran dan harus tinggal kelas dan kenapa dia harus badung seperti itu, semua itu mungkin karena dia merasa tak berdaya ditengah lingkungan dan hanya dengan kebadungannya itulah dia merasa bisa mendapat perhatian bahkan dari semua orang, begitu patuhnya sama orang tua, dia tak akan pergi kemanapun meski tempat itu tempat yang sangat kami sukai, kalau dia belum bertemu ibunya untuk pamit dan diikuti dengan mencium tangan ibunya, ini yang tak pernah kulihat diantara temen-temen termasuk aku sekalipun di usia seperti itu, diluar dia bisa seperti apa saja, tapi dalam rumah dia betul-betul anak yang sangat penurut, dia juga temen yang sangat solider, saat sakit dan tak bisa masuk sekolah.. dialah yang pertama datang menengokku yang lagi sakit, dialah yang melindungiku saat ada anak dari sekolah lain yang menggangguku, bahkan hanya dia yang berani tampil ke depan untuk dijadikan tumbal dan menerima hukuman guru padahal kenakalan itu kamilah yang melakukannya, dan yang aku salut tentang dia meski bengal, nakal dan berbagai julukan jelek lain yang ada padanya, tapi ketika tiba saat sholat dialah yang pertama mengingatkan dan mengajak kami sholat.

Melihat sekarang dia seperti apa dan apa yang telah dicapai dalam hidupnya dan melihat lagi pada diri sendiri, memang agak sedikit membuatku minder, bahkan mungkin sedikit cemburu dan memang betul, untuk segalanya dibandingkan dengan yang dia capai sekarang ini, aku sudah tertinggal jauh dibelakang, bahkan mungkin temen-temen SMP ku, tapi aku bahagia sekaligus bangga melihatnya, apalagi dia tak pernah melupakan masa lalu meski kehidupannya sudah jauh berubah dari yang lainnya, tetep hangat dan bersahabat.

Semakin nyatalah dihatiku bahwa jalan hidup seseorang itu tak ada yang tahu akan seperti apa, kita hanya bisa merencanakan segala sesuatu, tapi Tuhanlah yang mengatur semuanya, Tuhanlah yang bisa menjadikan si ini jadi si itu… dan si itu jadi si ini, roda kehidupan selalu berputar setiap saat, yang bawah bisa di atas begitu juga sebaliknya dan hanya dengan kepasrahan kepada Tuhanlah kita bisa bertahan. (Untuk sahabat terbaikku Nanang Wicakasna.)