Subuh itu jalanan masih lumayan sepi hingga aku masih bisa memacu kendaraan 70-80 km/jam, di tempatku kecepatan seperti itu sudah termasuk tinggi mengingat jalan yang cukup berliku dan tak sebesar jalan protokol di kota besar, karena biasanya kalau agak siangan dikit saja, bisa 30-40 km/jam pun itu sudah untung, apalagi bila pas daerah macet. Pas ketika melewati kampus IPB dan sedang asyik-asyiknya dengerin tompi, tiba-tiba terdengar suara sepeda motor dari arah samping kiri yang memekakan telinga, (mungkin knalpotnya diganti pipa besi seperti yang sering kulihat) aku sungguh kaget, karena sebelumnya tak terlihat dari kaca spion ada kendaraan lain dibelakangku. Pengendara motor itu memang tak menggunakan lampu, yang menyala hanyalah lampu saign. Dia menyalip entah dengan kecepatan berapa, yang pasti sih.. kalau tak reflek kubuang ke kanan dikit saja… pasti deh… kaca spionku jadi korban lagi. setelah dia memotong ke kanan, baru kulihat pengendara sepeda motor itu, dan ternyata memang bener dugaanku, kalau itu anak tanggung atau ABG, bahkan pake helmpun engga. Dia hanya melirik sekilas sambil nyengir kuda tanpa dosa. Dasar geblek…. ! yang tak habis pikir, kanapa harus nyalip dari kiri...? sementara kalau nyalip dari sebelah kananpun sebenarnya dari arah depan tak ada kendaraan lain dan kenapa harus dengan meraung-raungkan gas seperti itu..? bukan dengan lampu dim atau klakson…?. Kalau tak ingat dosa… rasanya pengen nginjek aja tuh gas... trus nyundul tuh motor, aku yakin pasti mental dan dia ninggalin raganya dengan berdarah-darah… sementara aku…? Itu gampang… tinggal tancap gas dan kabur aja.. toh ga bakal ada yang lihat. Astagfirulloh Haladziiim… ternyata serem juga ya… pikiran jahatku… itu namanya pembunuhan…! ga boleh…! ga baik…! aku harus lebih sabar…! Aku harus lebih dewasa…! lupakan saja dan anggap itu orang gila… itulah kata-kata yang harus diingat untuk meredakan amarah ketika di jalan. Bagaimanapun melampiaskan amarah apalagi sampai membunuh, itu sangat ga bagus, baik menurut agama maupun menurut koruptor… he… he.. nyambung ga sih….?.
Dari beberapa temen yang kuajak bicara tentang hal ini, sepertinya sepakat kalau akhir-akhir ini memang yang ditakutkan ketika kita di jalan itu sudah beralih, bukan lagi bis malam seperti bis-bis cepat di Pantura, ataupun tronton gandengan yang panjang, tapi justru sepeda motor.... Karena saat ini mungkin dimana-mana di Indonesia tercinta ini, yang namanya sepeda motor bukan main banyaknya. Sehingga kalau kita di perempatan atau lampu merah.. melihat sepeda motor itu layaknya laron melihat neon, begitu banyak dan saling berebut. Sementara pengendara lain yang lebih besar...? tentu saja harus mengalah dan berhati-gati bukan saja dari kiri kanan tapi juga depan dan belakang. Di tempat itu pula terkadang acara ugal-ugalan seperti dikomandoi. lihat saja ketika lampu menyala hijau, maka serentaklah mereka berlomba menarik gas sekencang-kencangnya kesana kemari mencari celah yang kosong layaknya di motor GP, padahal kalau sudah kena senggol dan pengendaranya terjatuh, tetep saja kendaraan yang lebih besar yang salah. Harus lebih waspada lagi kalau pengendaranya gerombolan anak tanggung atau ABG, kebanyakan anak-anak seusia itu memang sedang senang-senangnya narik gas, bahkan bisa dibilang perpaduan yang unik antara nyali yang gede, bawa yang ugal-ugalan dan sembrono, ditambah lagi motor yang masih gres, (baca : dengan Dp. 500 dapat motor baru) hasilnya… ya lumayan lah… kalau ga cacat seumur hidup.. ya… lewat dengan leher terkulai patah… dan kita tak perlu repot-repot, tinggal bawa koran bekas lalu menutupi jenazahnya di pinggir jalan… biarkan pak Polisi yang angkut ke mobil bak… halah…! ini sih didramatisir banget ya… tapi itulah kenyataan yang kita lihat setiap hari. Yang terkadang menjengkelkan, rata-rata anak seusia itu meski sudah jelas salah sekalipun, paling hanya pasang badan, hampir sama seperti dengan sopir-sopir angkot. Catatan: Kalau bermasalah dengan dua jenis ini, sebaiknya jangan diambil SIM tapi ambil STNK nya, karena aku sudah punya koleksi dua SIM ABG. Puas…?
Segala sesuatu ada baik dan buruknya, begitu juga dengan masalah sepeda motor ini, dari tata tertib lalulintas mungkin kita sedikit miris, tapi kalau dari segi bisnis..? itu bisa berkata lain, hanya saja mungkin yang kita inginkan agar semua berjalan dengan baik, paling tidak masih bisa selaras. Bisnis sepeda motor boleh tumbuh dengan subur, tapi lalu lintas juga tak semakin semerawut, kalau melihat data di koran ataupun melihat kenyataan di jalan, mungkin sudah saatnya pemerintah mengendalikan pertumbuhan sepada motor yang sedemikian meningkat itu. Bayangkan untuk selama semester I tahun 2008 ini saja, penjualan sepeda motor diperkirakan mencapai 6 Juta unit dan diprediksi jumlah penggunanya mencapai 50 juta unit di seluruh Indonesia... wow…! Itu angka yang sangat fantastis bukan…? Indonesia memang pangsa pasar yang gemuk bukan saja untuk jenis Hp, tapi juga sepeda motor. Dengan semakin murahnya DP, karena persaingan lembaga keuangan yang bermain semakin ketat juga memacu semakin mudah dan murahnya untuk kepemilikan motor. Kalau dulu kita hanya mengenal beberapa merk saja yang ada di jalan, tapi kini sudah bertambah dengan merk-merk yang masih asing ditelinga kita. Bahkan yang dulu zaman orang tua kita pernah berjaya dengan scooter trus hilang tak pernah lagi ada khabarnya, kini sudah kembali dengan gagah dan sudah banyak pula berseliweran di jalan, perkembangan motor yang sedemikian tinggi ini tentu membuka juga lahan usaha bagi yang jeli melihat peluang, bila anda ingin membuka usaha, cobalah pertimbangkan untuk terjun dibidang ini, siapa tahu bisa berhasil gemilang. Tidak harus punya uang segudang untuk buat dealer mentereng dan ikut-ikutan menjual, biarlah itu ditanggani sama yang sudah ada atau yang banyak uang. Kita bisa ambil yang kecil-kecilannya saja. Dengan jumlah motor yang sebegitu banyak dan akan terus berkembang seperti itu, tentunya perlu perawatan, nah... mungkin kita bisa buka service untuk itu, motor itu perlu juga dengan spare part, tak ada salahnya kalo kita juga buka toko yang menyediakan itu atau mungkin siapa tahu mereka butuh dengan variasi atau asesoris misalnya, kalau melihat perkembangan yang seperti itu, bukan tidak mungkin masih menjanjikan juga untuk bisnisnya.
Lalu bagaimana dengan jumlah kecelakaan..? seperti yang disinggung diawal cerita tadi.? Hmm… ini dia…! sepeda motor ternyata kontribusinya sangat besar juga dalam hal yang satu ini. Data Mabes Polri menyebutkan dari 30 ribu korban meninggal akibat kecelakaan di jalan, ternyata 62 persennya itu melibatkan sepeda motor. Untuk yang ini kita tak patut menyambut dengan Wow…! Fantastis…! Tapi Innalillahi Wa innailai Rojiun… tak usah ditambah-tabahin…. ga bagus..!.
Lalu bagaimana dengan jumlah kecelakaan..? seperti yang disinggung diawal cerita tadi.? Hmm… ini dia…! sepeda motor ternyata kontribusinya sangat besar juga dalam hal yang satu ini. Data Mabes Polri menyebutkan dari 30 ribu korban meninggal akibat kecelakaan di jalan, ternyata 62 persennya itu melibatkan sepeda motor. Untuk yang ini kita tak patut menyambut dengan Wow…! Fantastis…! Tapi Innalillahi Wa innailai Rojiun… tak usah ditambah-tabahin…. ga bagus..!.Aku sebenarnya tidak anti apalagi benci naik motor, karena aku sendiri sering naik motor. Tapi apapun itu kendaraannya yang penting cobalah untuk tertib lalu lintas, cobalah jaga kesopanan di jalan, cobalah untuk tidak mencelakakan orang lain, atau paling tidak… cobalah untuk menyayangi dirimu sendiri, ingat keluarga menunggu kita di rumah.
Jakarta. 5 Nopember 2008
Jakarta. 5 Nopember 2008
