Dewasa ini baik itu pasar, terminal, stasiun Kereta, setiap tempat keramaian, sampai perempatan jalan yang namanya preman selalu ada dan mengusai tempat-tempat itu, karena bagi mereka mungkin itu adalah mata rantai pencahariannya hanya saja ulahnya sudah sangat meresahkan, bagaimana tidak meresahkan karena yang namanya preman ini pekerjaan memeras, memalak/meminta dengan paksa, menodong sampai berpura-pura menyediakan jasa dan si korban diharuskan membayar atas jasa itu meski sebenarnya jasa itu tidak dibutuhkan (uang Jago). Para sopir di terminal, atau pedagang di pasar menjadi tak berdaya dengan ulah preman ini, karena bila tak membayar maka taruhannya adalah diri atau lahan usahanya yang akan terancam. Kalau sudah seperti ini mereka lebih baik membayar daripada menderita lebih dari itu. Apakah mereka suka rela dan ridho..? tentu saja tidak, mereka membayar semua itu karena sangat terpaksa dan tak berdaya, mereka hanya bisa pasrah meski sebenarnya tak rela.
Di zaman ekonomi semakin sulit dan angka pengangguran semakin tinggi seperti ini tentu preman ini juga berkembang dengan pesat bagaikan jamur di musim hujan, tumbuh subur dimana-mana semakin banyak dan tindakannyapun semakin nekad dan brutal dan yang pasti semakin meresahkan karena semakin banyak pula yang menjadi korban. Sementara masyarakat menjadi semakin tak berdaya dengan premen ini, karena tidak sedikit juga preman yang kongkalikong dengan oknum petugas saling memanfaatkan satu sama lain dan berbagi keuntungan, yang satu dimuluskan dalam hal memeras, yang satunya lagi dapat setoran dari hasil pemerasan, sepertinya hal ini sudah menjadi rahasia umum, itulah kenapa preman semakin betah mempertahankan kepremanannya.Semakin tingginya pertumbuhan preman tentu juga menyebabkan pergesekan antar preman itu sendiri, apalagi kalau para preman itu sudah berkelompok itu lebih mengerikan lagi, tak sedikit kita lihat diantara mereka melakukan tawuran saling memperebutkan wilayah dan lagi-lagi yang jadi korban adalah masyarakat, yang masih hangat di ingatan kita adalah tawuran antar preman di Tanah Abang. kalau sudah seperti ini usaha jadi terganggu keamanan juga mengkhawatirkan.
Beberapa hari ini kita melihat di tipi pencidukan premen di mana-mana tidak hanya yang berada di ibukota tapi juga di daerah, entah sudah berapa ribu orang yang terjaring dan digelandang, kita tentu merasa bersyukur akhirnya ada juga yang menertibkan hal ini dan berharap semoga saja ini tak hanya sesaat dan tak hanya cari nama atau hanya menancapkan nama, karena yang namanya premen tentu kalau pemberantasannya tak berkesinambungan dan tak dilanjutkan dengan pembinaan
mungkin dikemudian hari tetap saja akan muncul dan bukan tidak mungkin semakin akan banyak, karena preman itu sendiri muncul dari kemiskinan dan ketakberdayaan. Terlepas pro kontra bahkan tudingan kalau pemberantasan preman ini gebrakan salah kaprah, menyudutkan masyarakat miskin dsb, kita tetap acungkan jempol dan patut berterima kasih pada POLRI kali ini, memang sudah saatnya hal ini ditertibkan, yang penting Preman yang ditangkap memang yang melakukan pelanggaran pasal-pasal KUHP. Dan yang lebih penting lagi mudah-mudahan kita menjadi semakin merasa aman dimanapun kita berada. 